BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Nyamuk merupakan spesies dari arthropoda
yang berperan sebagai vector penyakit arthropod-born viral disease.
Contoh spesies nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit arthropod-born
viral disease adalah Aedes aegypti (Ae.aegypti). Nyamuk Ae.
aegyptiberperan sebagai vektor penyakit demam berdarah dengue (Wakhyulianto.
2005).
Upaya pengendalian nyamuk untuk mengurangi
kejadian penyakit arthropod-born viral disease telah banyak dilakukan.
Pengendalian tersebut meliputi pengendalian fisik, pengendalian hayati,
pengendalian kimiawi, pengendalian genetik dan pengendalian terpadu.
Pengendalian fisik dengan mengelola lingkungan sehingga keadaan lingkungan
tidak sesuai bagi perkembangbiakan nyamuk, pengendalian hayati dengan
memanfaatkan organisme predator dan patogen, pengendalian kimiawi
dengan menggunakan insektisida untuk membunuh nyamuk, pengendalian genetic
dilakukan dengan menyebarkan pejantan mandul ke dalam ekosistem, dan
pengendalian terpadu dilakukan dengan menggabungkan berbagai teknik
pengendalian yang ada.
Untuk itu perlu dilakukan pengujian efektifitas penggunaan abate
yang di gunakan untuk pengendalian vector jentik nyamuk Aedes aegypti. Apakah penggunaan
abate sudah efektif dalam mengendalikan vector jentik nyamuk atau tidak. Oleh
karena itu dalam praktikum ini dilakukan dengan berbagai konsentrasi pemberian
abate.
B.
Tujuan
1. Mengetahui
efektifitas abate sebagai pengendali jentik nyamuk Aedes aegypti
- Membandingkan efektifitas abate
berbagai merk sebagai pengendali jentik nyamuk Aedes aegypti
BAB II
DASAR TEORI
A. Nyamuk Aedes Aegypti
Nyamuk
merupakan spesies dari arthropoda yang berperan sebagai vector penyakit arthropod-borne
disease. Salah satu spesies nyamuk yang berperan sebagai vektor
penyakit tersebut adalah Aedes
aegypti (Ae.aegypti). Nyamuk Ae. Aegypti berperan
sebagai vektor penyakit demam berdarah dengue (Wakhyulianto. 2005).
Nyamuk Ae.
aegypti terdapat pada daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia
dalam garis lintang 35°LU dan 35°LS, dengan ketinggian wilayah kurang dari 1000
meter di atas permukaan air laut. Nyamuk Ae. aegypti berasal
dari Afrika, khususnya Ethiopia. Penyebaran nyamuk Ae. aegypti ke
seluruh dunia terjadi pada abad ke 19, yang disebabkan oleh meningkatnya
penggunaan kapal dagang dalam perdagangan antar benua. Nyamuk Ae.
aegypti pada awalnya hanya hidup di daerah tepi pantai, tetapi
kemudian menyebar ke daerah pedalaman (Sumarmo, 1988).
B.
Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti
Nyamuk termasuk serangga yang
mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) karena mengalami empat tahap
dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Tahapan yang dialami oleh nyamuk yaitu
telur, larva, pupa dan dewasa. Telur nyamuk akan menetas menjadi larva dalam
waktu 1-2 hari pada suhu 20-40°C. Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan larva
dipengaruhi oleh suhu, tempat, keadaan air dan kandungan zat makanan yang ada
di tempat perindukan. Pada kondisi optimum, larva berkembang menjadi pupa dalam
waktu 4-9 hari dan pada kondisi ini nyamuk tidak makan tapi tetap membutuhkan
oksigen yang diambilnya melalui tabung pernafasan (breathing trumpet) , kemudian pupa menjadi nyamuk dewasa dalam
waktu 2-3 hari sehingga waktu yang dibutuhkan dari telur hingga dewasa yaitu
7-14 hari (Lestari,2010).
Suhu udara merupakan salah satu
faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti.
Pada umumnya nyamuk akan meletakkan telurnya pada temperatur sekitar 20 – 30ºC.
Toleransi terhadap suhu tergantung pada spesies nyamuk. telur nyamuk tampak
telah mengalami embriosasi lengkap dalam waktu 72 jam dalam temperatur udara 25
- 30ºC. Rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25 – 27ºC dan
pertumbuhan nyamuk akan berhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10ºC atau
lebih dari 40ºC (Yudhastuti, 2005).
Kelembaban udara juga merupakan salah
satu kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan jentik nyamuk
Aedes aegypti. kelembaban udara yang berkisar 81,5 - 89,5% merupakan kelembaban
yang optimal untuk proses embriosasi dan ketahanan hidup embrio nyamuk.
Menurut
data dari Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, keberhasilan pencegahan penyakit DBD sangat bergantung pada
pengendalian vektornya, yaitu Ae. Aegypti (Bermawie, 2006).
* Pemberantasan Larva
nyamuk dengan cara kimia
Pemberantasan terhadap nyamuk secara kimia atau yang dikenal
sebagai Larvasidasi atau Larvasiding
yakni cara memberantas jentik nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan
insektisida pembasmi jentik (larvasida). Larvasida yang biasa digunakan antara
lain adalah temephos yang berupa butiran – butiran (sand granules). Dosis yang
digunakan adalah 1 ppm atau 10 gram (± 1 sendok makan rata) untuk tiap 100
liter air. Larvasida dengan temephos ini mempunyai efek residu selama 3 bulan
(Depkes RI,2004). Nama merek dagang temefos adalah abate.
Abate merupakan senyawa fosfat
organik yang mengandung gugus phosphorothioate. Bersifat stabil pada pH 8,
sehingga tidak mudah larut dalam air dan tidak mudah terhidrolisa. Abate murni
berbentuk kristal putih dengan titik lebur 300 – 30,50 C. Mudah terdegradasi
bila terkena sinar matahari, sehingga kemampuan membunuh larva nyamuk
tergantung dari degradasi tersebut. Gugus phosphorothioate (P=S) dalam tubuh
binatang diubah menjadi fosfat (P=O) yang lebih potensial sebagai
anticholinesterase. Kerja anticholinesterase adalah menghambat enzim
cholinesterase baik pada vertebrata maupun invertebrata sehingga menimbulkan
gangguan pada aktivitas syaraf karena tertimbunnya acetylcholin pada ujung
syaraf tersebut. Hal inilah yang mengakibatkan kematian (Fahmi,2006).
Larva Aedes aegypti mampu mengubah
P=S menjadi P=O ester lebih cepat dibandingkan lalat rumah, begitu pula
penetrasi abate ke dalam larva berlangsung sangat cepat dimana lebih dari 99%
abate dalam medium diabsorpsi dalam waktu satu jam setelah perlakuan. Setelah
diabsorpsi, abate diubah menjadi produk-produk metabolisme,sebagian dari produk
metabolik tersebut diekskresikan ke dalam air (Fahmi,2006)
Namun cara ini tidak menjamin
terbasminya tempat perindukkan nyamuk secara permanen, karena masyarakat pada
umumnya tidak begitu senang dengan bau yang ditimbulkan larvasida selain itu
pula diperlukan abate secara rutin untuk keperluan pelaksanaannya
(Chahaya,2011).
BAB III
METODOLOGI
A.
Alat :
-
Petri -
Wadah larva
-
Pipet -
Erlenmeyer
-
Mikropipet -
Erlenmeyer
-
Gelas plastik - Pengaduk
B.
Bahan :
-
Abate puskesmas
-
Jentik
nyamuk Aedes aegypti
-
Air
- Cara
Kerja
dicatat hasil mortalitasnya
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. DATA KEMATIAN JENTIK KEL.1 Dimulai
pukul 13:28
Waktu
(jam)
|
Konsentrasi (ppm)
|
|||||||||
10 1x
|
10 2x
|
10 3x
|
20 1x
|
20 2x
|
20 3x
|
30 1x
|
30 2x
|
30 3x
|
kontrol
|
|
½
|
√
|
√
|
√
|
√
|
√
|
√
|
√
|
√
|
√
|
√
|
1
|
5
|
7
|
9
|
16
|
20
|
19
|
20
|
20
|
20
|
√
|
2
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
√
|
4
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
√
|
8
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
-
|
16
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
-
|
24
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
-
|
48
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
20
|
-
|
l Rata-rata
kematian larva konsentrasi 10 ppm pada 1 jam pertama :
(5+7+9)/3=7 larva
% mortalitas 7/20x 100%= 35%
l Rata-rata
kematian larva konsentrasi 20 ppm pada 1 jam pertama :
(16+20+ 19)/3= 17 larva
%mortalitas 17/20x100%
= 85%
l Rata
–rata kematian larva konsentrasi 30 ppm 1 jam pertama :
% mortalitas =20/20x 100%= 100%
HASIL DATA KEMATIAN JENTIK KEL.3 (Dimulai pukul 14:35 - 13.35)
Waktu
(jam)
|
Konsentrasi (ppm)
|
|||||||||
Kontrol
|
10 1x
|
10 2x
|
10 3x
|
20 1x
|
20 2x
|
20 3x
|
30 1x
|
30 2x
|
30 3x
|
|
½
|
Hidup semua
|
18
|
18
|
20
|
18
|
16
|
17
|
19
|
14
|
19
|
1
|
Hidup Semua
|
2
|
2
|
-
|
2
|
-
|
3
|
1
|
6
|
-
|
2
|
Hidup Semua
|
-
|
-
|
-
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1
|
4
|
Hidup semua
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
8
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
16
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
24
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
PEMBAHASAN
Pada
praktikum ini bertujuan untuk mengetahui keefektifitan abate terhadap
mortalitas larva nyamuk di berbagai tipe
instar yaitu berupa konsentrasi 10ppm,
20 ppm, dan 30 ppm. Masing-masing dengan tiga kali ulangan. Abate (yang nama lainnya adalah “tahija”) merupakan
salah satu insektisida. Insektisida ini dapat mengubah Gugus phosphorothioate
(P=S) dalam tubuh binatang diubah menjadi fosfat (P=O) yang lebih potensial
sebagai anticholinesterase. Kerja anticholinesterase adalah
menghambat enzim cholinesterase baik pada vertebrata maupun invertebrata
sehingga menimbulkan gangguan pada aktivitas syaraf karena tertimbunnya acetylcholin
pada ujung syaraf tersebut, akibatnya impul saraf akan terstimulasi secara
terus menerus menerus menyebabkan gejala tremor/gemetar dan gerakan tidak
terkendal Hal inilah yang mengakibatkan kematian larva.
Abate
yang digunakan kelompok kami yaitu abate
puskesmas . Abate puskemas adalah abate yang dijual oleh puskesmas. Abate ini
relatif lebih murah harganya daripada abate yang dijual di apotek.Pertimbangan
harga yang relatif lebih murah ini karena produk obat-obatan yang dijual di
puskesmas mendapat subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Dan obat-obat yang
dijual di puksesmas lebih ditujukan pada kebutuhan masyarakat yang sering berkunjung
ke puskesmas untuk mmbantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Masing-masing
pengulangan dalam berbagai konsentrasi 10,20, dan 30 ppm abate diisi oleh larva
sejumlah 20 pada masing-masing botol plastik. Diberi pula kontrol sebgai
pembanding dengan berbagai perlakuan yang diberikan untuk menguji
keefektifannya. Kemudian diteliti mortalitas larva pada ½ jam pertama sampai 48
jam. Pada ½ jam pertama, 20 larva belum
ada yang mati. Namun setelah 1 jam pertama kematian larva secara keseluruhan
sudah dapat dibuktikan pada konsentrasi sebesar 30 ppm dalam semua
ulangan.Sedangkan 1 ulangan pada 20 ppm juga sudah mampu efektif untuk membunuh
20 larva. Namun rata-rata dari tiga ulangan konsentrasi 20 ppm pada 1 jam
pertama adalah sebesar (16+20+ 19)/3= 17 larva.% mortalitasnya adalah sebesar
85%. Namun hasil ini sudah dapat dibilang cukup efektif. Sedangkan pada 10 ppm
1 jam pertama rata-rata mortalitas larva adalah sebesar (5+7+9)/3=7 larva. %
mortalitasnya adalah sebesar 35%.
Perlu
diperhatikan bahwa biasanya abate yang dijual di apotek lebih mencantumkan
komposisi/formula yang ada dalam kemasan, dan mencantumkan cara/petunjuk
penggunaan. \
KESIMPULAN
Penggunaan abate apotek telah menunjukkan
efektivitasnya sebagai larvasida. Penggunaan Abate ini dilakukan dalam berbagai
konsentrasi yaitu 10, 20, dan 30 ppm dan terlihat berdasarkan data tabel diatas
bahwa semakin tinggi konsentrasi penggunaan abate semakin tinggi pula %
mortalitas dari jentik/larva nyamuk
tentu saja abate ini terbukti mampu melumpuhkan jentik nyamuk dalam
waktu satu setengah jam. Sehingga penggunaan abate ini dapat dimanfaatkan dalam pemutusan rantai
siklus hidup vektor penyakit.
DAFTAR
PUSTAKA
Andie,hermawan. 2013.
Praktikum kesehatan lingkungan. Dari web : http://andie-hermawan.blogspot.com/2013/01/praktikum-kesehatan-lingkungan.html (di
akses 5 mei 2014)
Novi. 2011. Abatisasi selektif
pemantauan jentik. Dari web : noviakl10jambi.wordpress.com/2011/04/30/abatisasi-selektif-pemantauan-jentik/(di
akses 5 mei 2014)
Sugeng Abdulah. 2003. Bioassay Kontak. http://gurumuda.com/bse/kesehatan-masyarakat. (di akses 5 mei 2014)
Sumarmo. 1988. Demam
Berdarah (Dengue) pada Anak. Jakarta: UI PRESS (di akses 5 mei 2014)


0 komentar:
Post a Comment