Thursday, May 15

"HASIL PRAKTIKUM TEKNIK PENGENDALIAN VEKTOR SECARA KIMIA MENGGUNAKAN ABATE PUSKESMAS” by : Gracia Imelda Else Ubas


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Nyamuk merupakan spesies dari arthropoda yang berperan sebagai vector penyakit arthropod-born viral disease. Contoh spesies nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit arthropod-born viral disease adalah Aedes aegypti (Ae.aegypti). Nyamuk Ae. aegyptiberperan sebagai vektor penyakit demam berdarah dengue (Wakhyulianto. 2005).
Upaya pengendalian nyamuk untuk mengurangi kejadian penyakit arthropod-born viral disease telah banyak dilakukan. Pengendalian tersebut meliputi pengendalian fisik, pengendalian hayati, pengendalian kimiawi, pengendalian genetik dan pengendalian terpadu. Pengendalian fisik dengan mengelola lingkungan sehingga keadaan lingkungan tidak sesuai bagi perkembangbiakan nyamuk, pengendalian hayati dengan memanfaatkan organisme predator dan patogen, pengendalian kimiawi dengan menggunakan insektisida untuk membunuh nyamuk, pengendalian genetic dilakukan dengan menyebarkan pejantan mandul ke dalam ekosistem, dan pengendalian terpadu dilakukan dengan menggabungkan berbagai teknik pengendalian yang ada.
Untuk itu perlu dilakukan pengujian efektifitas penggunaan abate yang di gunakan untuk pengendalian vector jentik nyamuk Aedes aegypti. Apakah penggunaan abate sudah efektif dalam mengendalikan vector jentik nyamuk atau tidak. Oleh karena itu dalam praktikum ini dilakukan dengan berbagai konsentrasi pemberian abate.

B.     Tujuan

1.      Mengetahui efektifitas abate sebagai pengendali jentik nyamuk Aedes aegypti
  1. Membandingkan efektifitas abate berbagai merk sebagai pengendali jentik nyamuk Aedes aegypti


BAB II
DASAR TEORI
A. Nyamuk Aedes Aegypti
Nyamuk merupakan spesies dari arthropoda yang berperan sebagai vector penyakit arthropod-borne disease. Salah satu spesies nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit tersebut adalah Aedes aegypti (Ae.aegypti). Nyamuk Ae. Aegypti berperan sebagai vektor penyakit demam berdarah dengue (Wakhyulianto. 2005).
Nyamuk Ae. aegypti terdapat pada daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia dalam garis lintang 35°LU dan 35°LS, dengan ketinggian wilayah kurang dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Nyamuk Ae. aegypti berasal dari Afrika, khususnya Ethiopia. Penyebaran nyamuk Ae. aegypti ke seluruh dunia terjadi pada abad ke 19, yang disebabkan oleh meningkatnya penggunaan kapal dagang dalam perdagangan antar benua. Nyamuk Ae. aegypti pada awalnya hanya hidup di daerah tepi pantai, tetapi kemudian menyebar ke daerah pedalaman (Sumarmo, 1988).
B. Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti
Nyamuk termasuk serangga yang mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) karena mengalami empat tahap dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Tahapan yang dialami oleh nyamuk yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Telur nyamuk akan menetas menjadi larva dalam waktu 1-2 hari pada suhu 20-40°C. Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh suhu, tempat, keadaan air dan kandungan zat makanan yang ada di tempat perindukan. Pada kondisi optimum, larva berkembang menjadi pupa dalam waktu 4-9 hari dan pada kondisi ini nyamuk tidak makan tapi tetap membutuhkan oksigen yang diambilnya melalui tabung pernafasan (breathing trumpet) , kemudian pupa menjadi nyamuk dewasa dalam waktu 2-3 hari sehingga waktu yang dibutuhkan dari telur hingga dewasa yaitu 7-14 hari (Lestari,2010).
Suhu udara merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti. Pada umumnya nyamuk akan meletakkan telurnya pada temperatur sekitar 20 – 30ºC. Toleransi terhadap suhu tergantung pada spesies nyamuk. telur nyamuk tampak telah mengalami embriosasi lengkap dalam waktu 72 jam dalam temperatur udara 25 - 30ºC. Rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25 – 27ºC dan pertumbuhan nyamuk akan berhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10ºC atau lebih dari 40ºC (Yudhastuti, 2005).
Kelembaban udara juga merupakan salah satu kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti. kelembaban udara yang berkisar 81,5 - 89,5% merupakan kelembaban yang optimal untuk proses embriosasi dan ketahanan hidup embrio nyamuk.
Menurut data dari Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, keberhasilan pencegahan penyakit DBD sangat bergantung pada pengendalian vektornya, yaitu Ae. Aegypti (Bermawie, 2006).
* Pemberantasan Larva nyamuk dengan cara kimia
Pemberantasan terhadap nyamuk secara kimia atau yang dikenal sebagai Larvasidasi atau Larvasiding yakni cara memberantas jentik nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida). Larvasida yang biasa digunakan antara lain adalah temephos yang berupa butiran – butiran (sand granules). Dosis yang digunakan adalah 1 ppm atau 10 gram (± 1 sendok makan rata) untuk tiap 100 liter air. Larvasida dengan temephos ini mempunyai efek residu selama 3 bulan (Depkes RI,2004). Nama merek dagang temefos adalah abate. 
Abate merupakan senyawa fosfat organik yang mengandung gugus phosphorothioate. Bersifat stabil pada pH 8, sehingga tidak mudah larut dalam air dan tidak mudah terhidrolisa. Abate murni berbentuk kristal putih dengan titik lebur 300 – 30,50 C. Mudah terdegradasi bila terkena sinar matahari, sehingga kemampuan membunuh larva nyamuk tergantung dari degradasi tersebut. Gugus phosphorothioate (P=S) dalam tubuh binatang diubah menjadi fosfat (P=O) yang lebih potensial sebagai anticholinesterase. Kerja anticholinesterase adalah menghambat enzim cholinesterase baik pada vertebrata maupun invertebrata sehingga menimbulkan gangguan pada aktivitas syaraf karena tertimbunnya acetylcholin pada ujung syaraf tersebut. Hal inilah yang mengakibatkan kematian (Fahmi,2006). 
Larva Aedes aegypti mampu mengubah P=S menjadi P=O ester lebih cepat dibandingkan lalat rumah, begitu pula penetrasi abate ke dalam larva berlangsung sangat cepat dimana lebih dari 99% abate dalam medium diabsorpsi dalam waktu satu jam setelah perlakuan. Setelah diabsorpsi, abate diubah menjadi produk-produk metabolisme,sebagian dari produk metabolik tersebut diekskresikan ke dalam air (Fahmi,2006)
Namun cara ini tidak menjamin terbasminya tempat perindukkan nyamuk secara permanen, karena masyarakat pada umumnya tidak begitu senang dengan bau yang ditimbulkan larvasida selain itu pula diperlukan abate secara rutin untuk keperluan pelaksanaannya (Chahaya,2011). 


BAB III
METODOLOGI

A.    Alat     :

-          Petri                       - Wadah larva
-          Pipet                      - Erlenmeyer
-          Mikropipet            - Erlenmeyer
-          Gelas plastik          - Pengaduk

B.     Bahan :

-          Abate puskesmas
-          Jentik  nyamuk Aedes aegypti
-          Air

  1. Cara Kerja

abate ditimbang berdasarkan konsentrasiyang telah dihitung (10 ppm,20 ppm, 30ppm)
lalu dimasukkan ke dalam 80 ml air pada gelas plastik
setelah itu dimasukkan jentik nyamuk
diamati kematian jentik selama ½ jam, 1 jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam, 16 jam, 24 jam, 48 jam.
dicatat hasil mortalitasnya




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. DATA KEMATIAN JENTIK KEL.1 Dimulai pukul 13:28
Waktu
(jam)
Konsentrasi (ppm)
10 1x
10 2x
10 3x
20 1x
20 2x
20 3x
30 1x
30 2x
30 3x
kontrol
½
1
5
7
9
16
20
19
20
20
20
2
20
20
20
20
20
20
20
20
20
4
20
20
20
20
20
20
20
20
20
8
20
20
20
20
20
20
20
20
20
-
16
20
20
20
20
20
20
20
20
20
-
24
20
20
20
20
20
20
20
20
20
-
48
20
20
20
20
20
20
20
20
20
-

l  Rata-rata kematian larva konsentrasi 10 ppm pada 1 jam pertama :
(5+7+9)/3=7 larva
% mortalitas  7/20x 100%= 35%
l  Rata-rata kematian larva konsentrasi 20 ppm pada 1 jam pertama :
(16+20+ 19)/3= 17 larva
%mortalitas 17/20x100%  = 85%
l  Rata –rata kematian larva konsentrasi 30 ppm 1 jam pertama :
% mortalitas =20/20x 100%= 100%

  HASIL DATA KEMATIAN JENTIK KEL.3  (Dimulai pukul 14:35 - 13.35)

Waktu
(jam)
Konsentrasi (ppm)
Kontrol
10 1x
10 2x
10 3x
20 1x
20 2x
20 3x
30 1x
30 2x
30 3x
½
Hidup semua
18
18
20
18
16
17
19
14
19
1
Hidup Semua
2
2
-
2
-
3
1
6
-
2
Hidup Semua
-
-
-
2
-
-
-
-
1
4
Hidup semua
-
-
-
-
-
-
-
-
-
8
3
-
-
-
-
-
-
-
-
-
16
3
-
-
-
-
-
-
-
-
-
24
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
















PEMBAHASAN

Pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui keefektifitan abate terhadap mortalitas larva nyamuk  di berbagai tipe instar yaitu  berupa konsentrasi 10ppm, 20 ppm, dan 30 ppm. Masing-masing dengan tiga kali ulangan. Abate  (yang nama lainnya adalah “tahija”) merupakan salah satu insektisida. Insektisida ini dapat mengubah Gugus phosphorothioate (P=S) dalam tubuh binatang diubah menjadi fosfat (P=O) yang lebih potensial sebagai anticholinesterase. Kerja anticholinesterase adalah menghambat enzim cholinesterase baik pada vertebrata maupun invertebrata sehingga menimbulkan gangguan pada aktivitas syaraf karena tertimbunnya acetylcholin pada ujung syaraf tersebut, akibatnya impul saraf akan terstimulasi secara terus menerus menerus menyebabkan gejala tremor/gemetar dan gerakan tidak terkendal Hal inilah yang mengakibatkan kematian larva.
Abate yang digunakan kelompok kami  yaitu abate puskesmas . Abate puskemas adalah abate yang dijual oleh puskesmas. Abate ini relatif lebih murah harganya daripada abate yang dijual di apotek.Pertimbangan harga yang relatif lebih murah ini karena produk obat-obatan yang dijual di puskesmas mendapat subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Dan obat-obat yang dijual di puksesmas lebih ditujukan pada kebutuhan masyarakat yang sering berkunjung ke puskesmas untuk mmbantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Masing-masing pengulangan dalam berbagai konsentrasi 10,20, dan 30 ppm abate diisi oleh larva sejumlah 20 pada masing-masing botol plastik. Diberi pula kontrol sebgai pembanding dengan berbagai perlakuan yang diberikan untuk menguji keefektifannya. Kemudian diteliti mortalitas larva pada ½ jam pertama sampai 48 jam.  Pada ½ jam pertama, 20 larva belum ada yang mati. Namun setelah 1 jam pertama kematian larva secara keseluruhan sudah dapat dibuktikan pada konsentrasi sebesar 30 ppm dalam semua ulangan.Sedangkan 1 ulangan pada 20 ppm juga sudah mampu efektif untuk membunuh 20 larva. Namun rata-rata dari tiga ulangan konsentrasi 20 ppm pada 1 jam pertama adalah sebesar (16+20+ 19)/3= 17 larva.% mortalitasnya adalah sebesar 85%. Namun hasil ini sudah dapat dibilang cukup efektif. Sedangkan pada 10 ppm 1 jam pertama rata-rata mortalitas larva adalah sebesar (5+7+9)/3=7 larva. % mortalitasnya adalah sebesar 35%.
Perlu diperhatikan bahwa biasanya abate yang dijual di apotek lebih mencantumkan komposisi/formula yang ada dalam kemasan, dan mencantumkan cara/petunjuk penggunaan. \

KESIMPULAN 
Penggunaan abate apotek telah menunjukkan efektivitasnya sebagai larvasida. Penggunaan Abate ini dilakukan dalam berbagai konsentrasi yaitu 10, 20, dan 30 ppm dan terlihat berdasarkan data tabel diatas bahwa semakin tinggi konsentrasi penggunaan abate semakin tinggi pula % mortalitas dari jentik/larva nyamuk  tentu saja abate ini terbukti mampu melumpuhkan jentik nyamuk dalam waktu satu setengah jam. Sehingga penggunaan abate  ini dapat dimanfaatkan dalam pemutusan rantai siklus hidup vektor penyakit.



DAFTAR PUSTAKA

Andie,hermawan. 2013. Praktikum kesehatan lingkungan. Dari web : http://andie-hermawan.blogspot.com/2013/01/praktikum-kesehatan-lingkungan.html (di akses 5 mei 2014)

Novi. 2011. Abatisasi selektif pemantauan jentik. Dari web : noviakl10jambi.wordpress.com/2011/04/30/abatisasi-selektif-pemantauan-jentik/(di akses 5 mei 2014)

Sugeng Abdulah. 2003. Bioassay Kontak. http://gurumuda.com/bse/kesehatan-masyarakat. (di akses 5 mei 2014)

Sumarmo. 1988. Demam Berdarah (Dengue) pada Anak. Jakarta: UI PRESS (di akses 5 mei 2014)

0 komentar:

Post a Comment