Tuesday, May 20

HASIL PRAKTIKUM EFEKTIFITAS BUAH PARE SEBAGAI BIOLARVASIDA by : Gracia Imelda Else Ubas

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Hingga tahun 2011 masih ditemukan 49.868 kasus penyakit DBD di Indonesia. Lingkungan menjadi  faktor penting penyebaran DBD yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti. Terutama di Indonesia yang memiliki iklim tropis, maka nyamuk akan bertahan dalam jangka waktu yang lama. Pengaruh lingkungan  biologis berupa penampungan air serta  pengaruh fisik seperti  tata ruangan, ketinggian tempat, musim dengan kelembapan tinggi akan mempengaruhi pertumbuhan larva dan menambah jumlah tempat perindukan nyamuk. Kebiasaan masyarakat menampung air bersih akan meningkatkan pertumbuhan jentik - jentik nyamuk.
Pemberantasan jentik merupakan kunci strategi program pengendalian vektor di seluruh dunia. Penggunaan insektisida sebagai larvasida merupakancara yang paling umum digunakan oleh masyarakat untuk mengendalikanpertumbuhan vektor tersebut. Oleh karena itu berbagai  penelitian dilakukan untuk mencari alternatif pemberantasan jentik yang ramah lingkungan yaitu melalui larvasida alami dari tumbuhan yang disebut sebagai biolarvasida. Mekanisme kematian jentik berhubungan dengan fungsi senyawa-senyawa dalam tumbuhan seperti alkaloid, triterpenoid, saponin dan flavonoid  yang dapat menghambat daya makan larva (antifedant) dan bertindak sebagai stomach poisoning atau racun perut. Jika masuk ke dalam tubuh larva, akan mengganggu sistem pencernaan serta sistem saraf larva. Berbagai jenis tumbuhan telah diketahui berpotensi sebagai larvasida dan insektisida. Pada praktikum kali ini, akan mencoba menggunakan tanaman pare sebagai biolarvasida jentik nyamuk.

B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui efektifitas buah pare sebagai biolarvasida.
2.      Untuk Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak buah pare (Momordica charantia)   terhadap mortalitas jentik Aedes aegypti.



BAB II
DASAR TEORI
A.    Tanaman Pare (Momordica charantia)  
Tanaman Pare (Momordica charantia L.) adalah sejenis tanaman menjalar dengan buahnya panjang bergerigi dan runcing ujungnya. Pare banyak terdapat di daerah tropika, tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tegalan. Tanaman setahun, merambat atau memanjat dengan alat pembelit atau sulur dengan karakteristik umum berbentuk spiral, banyak bercabang, dan berbau tidak enak. Tanaman pare mempunyai biji banyak, coklat kekuningan, bentuknya pipih memanjang, keras.
Tanaman pare (Momordica charantia) berpotensi sebagai bahan larvasida karena dari beberapa hasil penelitian, secara keseluruhan bagian dari tanaman pare (daun, biji, buah) bisa digunakan sebagai insektisida. Daun pare yang mengandung senyawa alkaloid (momordicin), flavonoid, triterpenoid dan saponin mempunyai kemampuan dalam membunuh larva nyamuk Aedes aegypti  dengan konsentrasi 500 ppm jumlah larva mati sebesar 82,5%, bahwa ekstrak biji pare (Momordica charantia L.) memiliki pengaruh terhadap mortalitas larva Aedes aegypti  dengan LC50 pada konsentrasi 0,07542%, berdasarkan adanya kandungan alkaloid, saponin dan triterpenoid (Subahar TS.2004).
Buah pare mengandung albuminoid, karbohidrat, zat warna, karantin, hydroxytryptamine, vitamin A, B dan C. Per 100 gr bagian buah yang dapat dimakan mengandung 29 kilo kalori; 1,1 gr protein; 0,3 gr lemak; 6,6 gr karbohidrat; 45 mg kalsium; 64 mg fosfor; 1,4 mg besi; 180 s.l. nilai vit A; 0,08 mg vit B1; 52 mg vit C dan 91,2 gr air.5,11 Selain itu juga mengandung saponin, flavonoid, polifenol, alkaloid, triterpenoid, momordisin, glikosida cucurbitacin, charantin, asam butirat, asam palmitat, asam linoleat, dan asam stearat (Lenny S. 2006). 
Beberapa senyawa yang terkandung dalam buah pare adalah alkaloid, triterpenoid, saponin, dan flavonoid. Saponin adalah suatu kelas gabungan senyawa kimia, salah satu senyawa metabolit sekunder yang ditemukan dari sumber alami dan dari berbagai macam spesies tanaman. Secara spesifik, saponin merupakan glikosida amphiatik dengan struktur seperti busa sabun yang dihasilkan bila dikocok pada larutan berair dan strukturnya terdiri dari satu atau lebih glikosida hidrofilik dikombinasikan dengan derivat triterpene lipofilik.  Senyawa flavonoid atau bioflavonoid adalah  suatu  kelompok  senyawa  fenol  yang terbesar  yang  ditemukan  di alam. Senyawa ini merupakan persenyawaan glucoside yang terdiri dari gula yang terikat dengan flavon.
Alkaloid secara umum mengandung paling sedikit satu buah atom nitrogen yang bersifat basa dan merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Kebanyakan alkaloid berbentuk padatan kristal dengan titik lebur tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Alkaloid dapat juga berbentuk amorf atau cairan. Beberapa alkaloid diketahui beracun terhadap organisme lain. Sedangkan triterpenoid merupakan senyawa kimia yang tersusun dari 4 atau 5 konfigurasi cincin dari 30 atom karbon dan beberapa oksigen. Triterpenoid dibentuk oleh unit C5 isoprene melalui jalur mevalonat sitosolik untuk membentuk C30 dan merupakan senyawa steroid di alam. Kolesterol merupakan salah satu contoh triterpenoid. Pada kadar tertentu, senyawa-senyawa tersebut dapat bersifat toksik, yang dalam hal ini dapat menyebabkan kematian terhadap hewan coba yaitu larva Artemia salina Leach. Mekanisme kematian larva berhubungan dengan fungsi senyawa alkaloid, triterpenoid, saponin dan flavonoid dalam buah pare yang dapat menghambat daya makan larva (antifedant). Cara kerja senyawa-senyawa tersebut adalah dengan bertindak sebagai stomach poisoning atau racun perut. Oleh karena itu, bila senyawa - senyawa ini masuk ke dalam tubuh larva, alat pencernaannya akan terganggu. Selain itu, senyawa ini menghambat reseptor perasa pada daerah mulut larva. Hal ini mengakibatkan larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya. Akibatnya, larva mati kelaparan.




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Alat


-          Pisau                           
-          Talenan
-          Oven                          
-          Gelas plastic
-          Pipet tetes                  
-          Pengaduk
-          Gelas ukur                  
-          Kompor listrik
-          Saringan                     
-          Sendok
-          Blender



B.     Bahan
-          Buah pare (Momordica charantia)
-          Aquades
-          Jentik nyamuk Aedes aegypti
C.    Cara Kerja
Sampel buah pare diiris tipis - tipis
Lalu dikeringkan dengan oven (50OC-70OC)
Ditumbuk halus
ditimbang sebanyak 100 gram
Bubuk pare dilarutkan dengan 650  mL akuades
Dipanaskan dengan suhu 90OC selama 15 menit
Disaring ampasnya
Dilakukan dalam Perlakuan konsentrasi pare 5%, 10%, 15%, dan 20% dalam 100 mL akuades (pengulangan 2 kali), dan 0% (kontrol)
Lalu diberi 20 ekor jentik nyamuk / gelas
diamati mortalitas jentik jam ke 0,5; 1; 2; 4; 8; 16; 32; 48



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil

Berikut adalah table data mortalitas jentik nyamuk pada berbagai konsentrasi pemberian pare

Waktu
Konsentrasi Buah Pare
Kontrol
5 % (U1)
5 % (U2)
10 % (U1)
10 % (U2)
15 % (U1)
15 % (U2)
20 % (U1)
20 % (U2)
Jam ke-0,5
(14.30)


5 M

5 M

10 M

10 M

8 M

9 M

9 M

16 M
Jam ke – 1
(15.30)


18 M

15 M

20 M

20 M

9 M

11 M

14 M

20 M
Jam ke – 2
(16.30)


20 M

20 M



13 M

16 M

15 M

Jam ke – 4
(18.30)






15 M

17 M

16 M

Jam ke – 8
(22.30)
13





20 M

20 M

20 M

Jam ke–16
(06.30)
20








Jam ke–32
(18.30)










Jam ke-48
(10.30)













B.     Pembahasan
Pada penelitian ini didapatkan bahwa ekstrak buah pare mempunyai potensi toksisitas akut. Hal tersebut berkaitan dengan keempat senyawa yang terdapat dalam buah pare yaitu alkaloid, saponin, triterpenoid dan flavonoid, dimana pada kadar tertentu memiliki potensi toksisitas akut serta dapat menyebabkan kematian pada jentik Aedes aegypti. Mekanisme kematian larva berhubungan dengan fungsi senyawa alkaloid, triterpenoid, saponin dan flavonoid dalam buah pare yang dapat menghambat daya makan larva (antifedant). Cara kerja senyawa-senyawa tersebut adalah dengan bertindak sebagai stomach poisoning atau racun perut. Oleh karena itu, bila senyawa-senyawa ini masuk ke dalam tubuh larva, alat pencernaannya akan terganggu. Selain itu, senyawa ini menghambat reseptor perasa pada daerah mulut larva. Hal ini mengakibatkan larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya sehingga larva mati kelaparan.


DAFTAR PUSTAKA
Cahyadi, Robby. 2009. Skripsi : UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL BUAH PARE (Momordica charantia L.) TERHADAP LARVA Artemia salina Leach DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BST). Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. (diakses 18 Mei 2014)
Subahar TS.2004. Khasiat dan Manfaat Pare. Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta;2004. (diakses 18 Mei 2014)
Lenny S. 2006. Senyawa Flavonoida, Fenilpropanoida Dan Alkaloida. Medan: Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara; 2006. (diakses 18 Mei 2014)

0 komentar:

Post a Comment