BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hingga tahun 2011 masih ditemukan
49.868 kasus penyakit DBD di Indonesia. Lingkungan menjadi faktor penting penyebaran DBD yang ditularkan
melalui nyamuk Aedes aegypti. Terutama
di Indonesia yang memiliki iklim tropis, maka nyamuk akan bertahan dalam jangka
waktu yang lama. Pengaruh lingkungan
biologis berupa penampungan air serta
pengaruh fisik seperti tata
ruangan, ketinggian tempat, musim dengan kelembapan tinggi akan mempengaruhi
pertumbuhan larva dan menambah jumlah tempat perindukan nyamuk. Kebiasaan
masyarakat menampung air bersih akan meningkatkan pertumbuhan jentik - jentik
nyamuk.
Pemberantasan jentik
merupakan kunci strategi program pengendalian vektor di seluruh dunia.
Penggunaan insektisida sebagai larvasida merupakancara yang paling umum
digunakan oleh masyarakat untuk mengendalikanpertumbuhan vektor tersebut. Oleh
karena itu berbagai penelitian dilakukan
untuk mencari alternatif pemberantasan jentik yang ramah lingkungan yaitu
melalui larvasida alami dari tumbuhan yang disebut sebagai biolarvasida.
Mekanisme kematian jentik berhubungan dengan fungsi senyawa-senyawa dalam
tumbuhan seperti alkaloid, triterpenoid, saponin dan flavonoid yang dapat menghambat daya makan larva
(antifedant) dan bertindak sebagai stomach poisoning atau racun perut. Jika
masuk ke dalam tubuh larva, akan mengganggu sistem pencernaan serta sistem
saraf larva. Berbagai jenis tumbuhan telah diketahui berpotensi sebagai
larvasida dan insektisida. Pada praktikum kali ini, akan mencoba menggunakan
tanaman pare sebagai biolarvasida jentik nyamuk.
B. Tujuan
1. Untuk
mengetahui efektifitas buah pare sebagai biolarvasida.
2. Untuk
Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak buah pare (Momordica charantia) terhadap mortalitas jentik Aedes aegypti.
BAB II
DASAR TEORI
A.
Tanaman
Pare (Momordica charantia)
Tanaman Pare (Momordica charantia L.)
adalah sejenis tanaman menjalar dengan buahnya panjang bergerigi dan runcing
ujungnya. Pare banyak terdapat di daerah tropika, tumbuh baik di dataran rendah
dan dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tegalan. Tanaman setahun,
merambat atau memanjat dengan alat pembelit atau sulur dengan karakteristik
umum berbentuk spiral, banyak bercabang, dan berbau tidak enak. Tanaman pare
mempunyai biji banyak, coklat kekuningan, bentuknya pipih memanjang, keras.
Tanaman pare (Momordica charantia) berpotensi sebagai bahan larvasida karena dari
beberapa hasil penelitian, secara keseluruhan bagian dari tanaman pare (daun,
biji, buah) bisa digunakan sebagai insektisida. Daun pare yang mengandung
senyawa alkaloid (momordicin), flavonoid, triterpenoid dan saponin mempunyai
kemampuan dalam membunuh larva nyamuk Aedes aegypti dengan konsentrasi 500 ppm jumlah larva mati
sebesar 82,5%, bahwa ekstrak biji pare (Momordica
charantia L.) memiliki pengaruh terhadap mortalitas larva Aedes aegypti dengan LC50 pada konsentrasi 0,07542%,
berdasarkan adanya kandungan alkaloid, saponin dan triterpenoid (Subahar
TS.2004).
Buah pare mengandung albuminoid,
karbohidrat, zat warna, karantin, hydroxytryptamine, vitamin A, B dan C. Per
100 gr bagian buah yang dapat dimakan mengandung 29 kilo kalori; 1,1 gr
protein; 0,3 gr lemak; 6,6 gr karbohidrat; 45 mg kalsium; 64 mg fosfor; 1,4 mg
besi; 180 s.l. nilai vit A; 0,08 mg vit B1; 52 mg vit C dan 91,2 gr air.5,11
Selain itu juga mengandung saponin, flavonoid, polifenol, alkaloid,
triterpenoid, momordisin, glikosida cucurbitacin, charantin, asam butirat, asam
palmitat, asam linoleat, dan asam stearat (Lenny S. 2006).
Beberapa senyawa yang terkandung
dalam buah pare adalah alkaloid, triterpenoid, saponin, dan flavonoid. Saponin
adalah suatu kelas gabungan senyawa kimia, salah satu senyawa metabolit
sekunder yang ditemukan dari sumber alami dan dari berbagai macam spesies
tanaman. Secara spesifik, saponin merupakan glikosida amphiatik dengan struktur
seperti busa sabun yang dihasilkan bila dikocok pada larutan berair dan
strukturnya terdiri dari satu atau lebih glikosida hidrofilik dikombinasikan
dengan derivat triterpene lipofilik.
Senyawa flavonoid atau bioflavonoid adalah suatu
kelompok senyawa fenol
yang terbesar yang ditemukan
di alam. Senyawa ini merupakan persenyawaan glucoside yang terdiri dari
gula yang terikat dengan flavon.
Alkaloid secara umum mengandung
paling sedikit satu buah atom nitrogen yang bersifat basa dan merupakan bagian
dari cincin heterosiklik. Kebanyakan alkaloid berbentuk padatan kristal dengan
titik lebur tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Alkaloid dapat juga
berbentuk amorf atau cairan. Beberapa alkaloid diketahui beracun terhadap
organisme lain. Sedangkan triterpenoid merupakan senyawa kimia yang tersusun
dari 4 atau 5 konfigurasi cincin dari 30 atom karbon dan beberapa oksigen.
Triterpenoid dibentuk oleh unit C5 isoprene melalui jalur mevalonat sitosolik
untuk membentuk C30 dan merupakan senyawa steroid di alam. Kolesterol merupakan
salah satu contoh triterpenoid. Pada kadar tertentu, senyawa-senyawa tersebut
dapat bersifat toksik, yang dalam hal ini dapat menyebabkan kematian terhadap
hewan coba yaitu larva Artemia salina Leach. Mekanisme kematian larva
berhubungan dengan fungsi senyawa alkaloid, triterpenoid, saponin dan flavonoid
dalam buah pare yang dapat menghambat daya makan larva (antifedant). Cara kerja
senyawa-senyawa tersebut adalah dengan bertindak sebagai stomach poisoning atau
racun perut. Oleh karena itu, bila senyawa - senyawa ini masuk ke dalam tubuh
larva, alat pencernaannya akan terganggu. Selain itu, senyawa ini menghambat
reseptor perasa pada daerah mulut larva. Hal ini mengakibatkan larva gagal
mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya. Akibatnya,
larva mati kelaparan.
BAB
III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Alat
-
Pisau
-
Talenan
-
Oven
-
Gelas plastic
-
Pipet tetes
-
Pengaduk
-
Gelas ukur
-
Kompor listrik
-
Saringan
-
Sendok
-
Blender
B. Bahan
-
Buah pare (Momordica charantia)
-
Aquades
-
Jentik nyamuk Aedes aegypti
C. Cara Kerja
Sampel buah pare
diiris tipis - tipis
↓
Lalu dikeringkan
dengan oven (50OC-70OC)
↓
Ditumbuk halus
↓
ditimbang sebanyak
100 gram
↓
Bubuk pare
dilarutkan dengan 650 mL akuades
↓
Dipanaskan dengan
suhu 90OC selama 15 menit
↓
Disaring ampasnya
↓
Dilakukan dalam
Perlakuan konsentrasi pare 5%, 10%, 15%, dan 20% dalam 100 mL akuades
(pengulangan 2 kali), dan 0% (kontrol)
↓
Lalu diberi 20
ekor jentik nyamuk / gelas
↓
diamati mortalitas
jentik jam ke 0,5; 1; 2; 4; 8; 16; 32; 48
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berikut
adalah table data mortalitas jentik nyamuk pada berbagai konsentrasi pemberian
pare
Waktu
|
Konsentrasi Buah Pare
|
||||||||
Kontrol
|
5 % (U1)
|
5 % (U2)
|
10 % (U1)
|
10 % (U2)
|
15 % (U1)
|
15 % (U2)
|
20 % (U1)
|
20 % (U2)
|
|
Jam
ke-0,5
(14.30)
|
5
M
|
5
M
|
10
M
|
10
M
|
8
M
|
9
M
|
9
M
|
16
M
|
|
Jam
ke – 1
(15.30)
|
18
M
|
15
M
|
20 M
|
20 M
|
9
M
|
11
M
|
14
M
|
20 M
|
|
Jam
ke – 2
(16.30)
|
20 M
|
20 M
|
13
M
|
16
M
|
15
M
|
||||
Jam
ke – 4
(18.30)
|
15
M
|
17
M
|
16
M
|
||||||
Jam
ke – 8
(22.30)
|
13
|
20 M
|
20 M
|
20 M
|
|||||
Jam
ke–16
(06.30)
|
20
|
||||||||
Jam
ke–32
(18.30)
|
|||||||||
Jam
ke-48
(10.30)
|
|||||||||
B. Pembahasan
Pada penelitian ini didapatkan bahwa
ekstrak buah pare mempunyai potensi toksisitas akut. Hal tersebut berkaitan
dengan keempat senyawa yang terdapat dalam buah pare yaitu alkaloid, saponin,
triterpenoid dan flavonoid, dimana pada kadar tertentu memiliki potensi
toksisitas akut serta dapat menyebabkan kematian pada jentik Aedes aegypti. Mekanisme kematian larva
berhubungan dengan fungsi senyawa alkaloid, triterpenoid, saponin dan flavonoid
dalam buah pare yang dapat menghambat daya makan larva (antifedant). Cara kerja
senyawa-senyawa tersebut adalah dengan bertindak sebagai stomach poisoning atau
racun perut. Oleh karena itu, bila senyawa-senyawa ini masuk ke dalam tubuh
larva, alat pencernaannya akan terganggu. Selain itu, senyawa ini menghambat
reseptor perasa pada daerah mulut larva. Hal ini mengakibatkan larva gagal
mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya sehingga
larva mati kelaparan.
DAFTAR PUSTAKA
Cahyadi, Robby.
2009. Skripsi : UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL BUAH PARE (Momordica
charantia L.) TERHADAP LARVA Artemia salina Leach DENGAN METODE BRINE SHRIMP
LETHALITY TEST (BST). Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
(diakses 18 Mei 2014)
Subahar TS.2004.
Khasiat dan Manfaat Pare. Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta;2004. (diakses 18
Mei 2014)
Lenny S. 2006.
Senyawa Flavonoida, Fenilpropanoida Dan Alkaloida. Medan: Departemen Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara; 2006.
(diakses 18 Mei 2014)


0 komentar:
Post a Comment