Friday, May 30

LAPORAN PRAKTIKUM SPESIMEN KLINIK DASAR"MENGIDENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB KEPUTIHAN PADA ORGAN REPRODUKSI WANITA" by: Gracia Imelda Else Ubas

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Kesehatan reproduksi pada wanita tidak terlepas pada kesehatan organ intimnya. Tentu kita perlu sadari bahwa menjaga kesehatan reproduksi sangat penting. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah menjaga kebersihan atau higienitas, terutama pada daerah sekitar vagina. Dalam vagina terdapat mikroorganisme (flora normal) yang bila tidak di jaga dapat terganggu keseimbangan. Bila hal ini terjadi maka akan timbul gangguan dan keluhan pada daerah tersebut, salah satu gejala adanya gangguan adalah melalui timbulnya keputihan.
Keputihan merupakan istilah lazim digunakan oleh masyarakat untuk menyebut penyakit kandidiasis vaginal yang terjadi pada daerah kewanitaan. Penyakit keputihan merupakan masalah kesehatan yang spesifik pada wanita. Sebanyak 505 pelajar putri di sekolah menengah dan perguruan tinggi pernah mengalami keputihan ketika berusia kurang dari 25 tahun.
Keputihan bisa dikategorikan normal yaitu berkaitan dengan siklus menstruasi, yang terjadi menjelang ataupun setelah menstruasi atau bisa juga keluar saat kita sedangmengalami stress atau kelelahan.
Tetapi ada juga jenis keputihan akibat suatu gangguan seperti infeksi parasit, bakteri, jamur atau virus pada vagina. Biasanya keputihan jenis ini bisa bervariasi dalam warna, berbau, dan disertai keluhan seperti gatal, nyeri atau terbakar di sekitar vagina.


B.     TUJUAN
 Mengetahui jenis bakteri yang menyebabkan terjadinya keputihan pada wanita organ reproduksi wanita.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Keputihan
1. Pengertian
Keputihan merupakan masalah klinis yang umum dengan banyak penyebab. Dalam terminologi terdahulu seperti “non spesifik vaginitis” atau “non spesifik infeksi saluran kelamin bawah” sering digunakan untuk menggambarkan kondisi yang menyebabkan keputihan. Keputihan (Leukore/fluor albus/vaginal discharge leukore) merupakan cairan yang keluar dari vagina. Dalam keadaan biasa, cairan ini tidak sampai keluar namun belum tentu bersifat patologis (berbahaya). Pengertian lain adalah setiap cairan yang keluar dari vagina selain darah dapat berupa sekret, transudasi atau eksudat dari organ atau lesi dari saluran genital. Cairan normal vagina yang berlebih. Jadi hanya meliputi sekresi dan transudasi yang berlebih, tidak termasuk eksudat (Mansjoer et al, 2001). Leukorea(keputihan) yaitu cairan putih yang keluar dari liang senggama secara berlebihan (Manuaba, 2009).

2. Epidemiologi
Penelitian secara epidemiologi, fluor albus patologis dapat menyerang  wanita mulai dari usia muda, usia reproduksi sehat maupun usia tua dan tidak mengenal tingkat pendidikan, ekonomi dan sosial budaya, meskipun kasus ini lebih banyak dijumpai pada wanita dengan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah. Fluor albuspatologis sering disebabkan oleh infeksi, salah satunya bakteri vaginosis(BV) adalah penyebab tersering (40-50% kasus terinfeksi vagina), vulvovaginal candidiasis(VC) disebabkan oleh jamur candida species, 80-90% oleh candida albicans, trichomoniasis (TM) disebabkan oleh trichomoni asis vaginalis, angka ke jadiannya sekitar 5-20% dari kasus infeksi vagina (Haryadi, 2011).

3. Penyebab
Etiologi fluor albus sampai sekarang masih sangat bervariasi sehingga disebut multifaktorial. Faktor-faktor  tersebut mengharuskan seorang dokter meningkatkan ketajaman dalam pemeriksaan pasien, analisis penyebab serta memberikan terapi atau tindakan yang sesuai.  Fluor albus dapat dijumpai pada wanita dengan diagnosa vulvitis, vaginitis, servisitis, endometritis, dan adneksitis. Mikroorganisme patologis dapat memasuki traktus genitalia wanita dengan berbagai cara, misalnya seperti senggama, trauma atau perlukaan pada 19 vagina dan serviks, benda asing, alat-alat pemeriksaan yang tidak steril, pada saat persalinan dan abortus (Candran, 2002). Keputihan disebabkan oleh beberapahal yaitu infeksi, benda asing, penyakit organ kandungan, kelelahan, gangguan hormon, pola hidup tidak sehat dan stres akibat kerja. Keputihan disebabkan oleh adanya perubahan flora normal yang berdampak terhadap derajat keasaman (pH) organ reproduksi wanita (Indarti, 2004). Burke (2006), menyatakan bahwa ada beberapa penyebab keputihan. Keputihan fisiologis terjadi ketika pada masa ovulasi. Selain itu keputihan juga disebabkan oleh adanya infeksi vagina, infeksi dalam servik, adanya tampon atau benda asing dan adanya keganasanservik. Vaginitis yang disebabkan oleh infeksi jamur atau protozoa dapat menyebabkan perubahan keputihan, berbau, terasa gatal, iritasi vulvovaginal, disuria atau dispareunia tergantung pada jenis infeksi. Vaginosis bakteri terutama ditandai dengan keluarnya cairan yang berbau busuk, hal tersebut umum terjadi pada wanita dengan banyak pasangan seks dan disebabkan oleh pertumbuhan berlebih dari beberapa jenis bakteri anaerob yang fakultatif.  Vulvovaginal candididasis ditandai dengan rasa gatal, dan keluarnya keputihan  seperti keju. Keputihan yang disebabkan oleh trikomonas ditandai dengan keluarnya cairan yang berwarna kekuningan atau kehijauan yang berlebihan  dan kadang-kadang berbusa) (Puriet al, 2003).

Ada 4 penyebab utama yang dapat menyebabkan perubahan flora normal dan memicu keputihan (Ichwan, 2009):

A.                 Faktor Fisiologis
Keputihan yang bersifat normal (fisiologis) pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada daerah porsio vagina. Sekret patologik biasanya terdapat pada dinding lateral dan anterior vagina. Keputihan fisiologis terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang. Sedangkan pada keputihan yang patologik terdapat banyak leukosit. Keputihan yang fisiologis dapat ditemukan pada:
(1)Waktu disekitar  menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen; keputihan ini dapat menghilang sendiri akan tetapi dapat menimbulkan kecemasan pada orang tua.
(2)Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudat dari dinding vagina.
(3) Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelanjar serviks uteri menjadi lebih encer.
(4) Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion porsionis uteri(Wiknjosastro, 2005).

B.                 Faktor konstitusi
Faktor konstitusi misalnya karena kelelahan, stres emosional, karena ada masalah dalam keluarga atau pekerjaan, bisa juga karena penyakit yang melelahkan seperti gizi yang rendah ataupun diabetes. Bisa juga disebabkan oleh status imunologis yang menurun maupun obat-obatan. Diet yang tidak seimbang juga dapat menyebabkan keputihan terutama diet dengan jumlah gula yang berlebihan, karena merupakan faktor yang sangat memperburuk terjadinya keputihan (Ichwan, 2009). Diet memegang peranan penting untuk mengendalikan infeksi jamur. Dengan makanan yang cukup gizikita bisa membantu tubuh kita memerangi infeksi dan mencegah keputihan vagina yang berlebihan. Hindari makanan yang banyak mengandung karbohidrat dengan kadar gula tinggi seperti tepung, sereal, dan roti. Makanan dengan jumlah gula yang berlebihan dapat menimbulkan efek negatif pada bakteri yang bermanfaat yang tinggal di dalam vagina. Selaput lendir dinding vagina mengeluarkan glikogen, suatu senyawa gula. Bakteri yang hidup di vagina disebut lactobacillus(bakteri baik) meragikan gula ini menjadi asam laktat. Proses ini menghambat pertumbuhan jamur dan menahan perkembangan infeksi vagina. Gula yang dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan bakteri lactobacillus tidak dapat meragikan semua gula ke dalam asam laktat dan tidak dapat menahan pertumbuhan penyakit, maka jumlah menjadi meningkat danjamur atau bakteri perusak akan bertambah banyak (Clayton, 2005).

C.                 Faktor iritasi
Faktor iritasi sebagai penyebab keputihan meliputi, penggunaan sabun untuk mencuci organ intim, iritasi terhadap pelicin, pembilas atau pengharum vagina, ataupun bisa teriritasi oleh celana (Ichwan, 2009).


Keputihan patologis akibat infeksi diakibatkan oleh infeksi alat reproduksi bagian bawah atau pada daerah yang lebih proksimal, yang bisa disebabkan oleh infeksi gonokokus, trikomonas, klamidia, treponema, candida, human papiloma virus, dan herpes genitalis(Koneman, 1992).
(1)Bakteri
(a)Gonococcus
Penyebab gonococcus adalah coccus gram negatif “Neisseria gonorrhoeae” ditemukan oleh Neisser pada 1879. Neisseria gonorrhoeae adalah diplokokus berbentuk biji kopi, bakteri yang tidak dapat bergerak, tidak memiliki spora, jenis diplokokkus gram negatif dengan ukuran 0,8-1,6 mikro, bersifat tahan asam. Bakteri gonokokkus tidak tahan terhadap kelembaban, yang cenderung mempengaruhi transmisi seksual. Bakteri ini bersifat tahan terhadap oksigen tetapi biasanya memerlukan 2-10%CO2 dalam pertumbuhannya di atmosfer. Bakteri ini membutuhkan zat besi untuk tumbuh dan mendapatkannya melalui transferin, laktoferin dan hemoglobin. Organisme ini tidak dapat hidup pada daerah kering dan suhu 25 rendah, tumbuh optimal pada suhu 35-37°C dan pH 7,2-8,5 untuk pertumbuhan yang optimal. Pada sediaan langsung dengan gram, bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram bersifat gram negatif, terlihat di luar dan dalam leukosit, kuman ini tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, dan tidak tahan zat desinfektan. Secara morfologikgonokok terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili dan bersifat virulen, serta 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menyebabkan reaksi radang. Organisme ini menyerang membran mukosa, khususnya epitel kolumnar yang terdapat pada uretra, servik uteri, rectum, dan konjungtiva.

(b) Clamidya Trachomatis
Bakteri ini sering menyebabkan penyakit mata yang dikenal dengan penyakit traukom. Bakteri ini juga dapat ditemukan pada cairan vagina yang berwarna kuning seperti pus. Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang abnormal. Dan terlihat melalui mikroskop setelah diwarnai dengan pewarnaan Giemsa. Bakteri ini membentuk suatu badan inklusi yang berada dalam sitoplasma sel-sel vagina.



                        (c) Gardanerella
Gardanerella menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang dianggap sebagai bagian dari mikroorganisme normal dalam vagina karena seringnya ditemukan. Bakteri ini biasanya mengisi penuh sel epitel vagina dengan membentuk bentukan khas dan disebut clue cell. Pertumbuhan yang optimal pada pH 5-6,5.

(d) Treponema Palidum
Bakteri ini merupakan penyebab penyakit sifilis. Pada perkembangan penyakit dapat terlihat sebagai kutil-kutil kecil di vulva dan vagina yang disebut kondilomalata. Bakteri berbentuk spiral panjang 6-15 μ, lebar 0, 25 μ, lilitan 9-24 dan tampak bergerak aktif (gerak maju & mundur, Berotasi undulasi sisi ke sisi) pada pemeriksaan mikroskopis lapangan gelap.
           
(2) Parasit (Trichomonas Vaginalis)
Parasit ini berbentuk lonjong dan mempunyai bulu getar dan dapat bergerak berputar-putar dengan cepat. Gerakan ini dapat dipantau dengan mikroskop. Cara penularan penyakit ini dengan senggama. Walaupun jarang dapat juga ditularkan melalui perlengkapan mandi, seperti handuk atau bibir kloset.

(3)Jamur (Candida Albicans)
Cairan yang dikeluarkan biasanya kental, berwarna putih susu seperti susu pecah atau seperti keju, dan sering disertai gatal, vagina tampak kemerahan akibat proses peradangan. Dengan KOH 10% tampak sel ragi (blastospora) dan hifa semu (pseudohifa).  Beberapa keadaan yang dapat merupakan tempat yang subur bagi pertumbuhan jamur ini adalah kehamilan, diabetes mellitus, pemakai pil kontrasepsi. Pasangan penderita juga biasanya akan menderita penyakit jamur ini. Keadaan yang saling menularkan antara pasangan suami-istri disebut sebagai fenomena ping-pong.

(4)Virus
(a)Herpes Simplek
Virus herpes yang paling sering (> 95%) adalah virus herpes simpleks tipe 2 yang merupakan penyakit yang ditularakan melalui senggama, namun 15%-35% dapat juga disebabkan virus herpes simpleks tipe 1. Pada awal infeksi tampak kelainan kulit seperti melepuh seperti terkena air panas yang kemudian pecah dan menimbulkan luka seperti borok. Pasien merasa kesakitan.

(b)Human Papilloma Virus
Papovavirus merupakan virus kecil (diameter 45-55 μm) yang mempunyai genom beruntai ganda yang sirkuler diliputi


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    ALAT
1.      Petri
2.      Kapas steril
3.      Ose
4.      Bunsen
5.      Laminar air flow
6.      Elemeyer

B.     BAHAN
1.      Medium MHA
2.      Air pepton

C.    CARA KERJA

Siapkan kapas steril , sweep vagina dengan kapas steril
Masukkan kapas yang sudah di sweep kedalam air pepton tunggu hingga 1 jam
Dengan menggunakan ose kita oleskan keputihan yang ada di airpepton ke medium MHA
Disimpan dalam inkubator selama 24-48 jam dengan suhu 37C
Setelah diamati pindahkan ke BPA
Amati dan identifikasi bakteri yang ada disana.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.                HASIL
No. Sampel
Spesimen
Kelompok
Pada MHA
Pada BPA
Identifikasi dini
1
Keputihan
1
Koloni Coklat
Koloni hjau

2
Keputihan
1
Koloni Putih
Koloni hitam
Staphylococcous
3
Keputihan
2



4
Keputihan
2



5
Keputihan
3
-
-
-
6
Keputihan
3
-
-
-
7
Keputihan
4
Koloni Putih
-
-
8
Keputihan
4
Koloni Putih
-
-














B.                 PEMBAHASAN
Flora normal di dalam vagina membantu menjaga keasaman pH vagina, pada keadaan yang optimal. pH vagina seharusnya antara 3,5-5,5, namun flora normal ini bisa terganggu misalnya karena pemakaian antiseptik untuk daerah vagina bagian dalam. Ketidakseimbangan yang terjadi pada daerah vagina bisa mengakibatkan tumbuhnya jamur dan kuman-kuman yang lain. Padahal flora normal dibutuhkan untuk menekan tumbuhan yang lain agar tidak tumbuh subur. Jika keasaman dalam vagina berubah maka kuman-kuman lain dengan mudah akan tumbuh sehingga akibatnya bisa terjadi infeksi yang akhirnya menyebabkan keputihan, yang berbau, gatal, dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Pada praktikum ini keputihan yang telah di sweep menggunakan kapas steril kita masukkan kedalam air pepton 1% ini dikarenakan air pepton tidak akan membuat bakteri semakin berkembang biak dan bakteri juga tidak akan mati. Selanjutnya bakteri akan dipindahkan kedalam medium MHA( Muller Hinton Agar ) dimana medium ini untuk tes antibakteri terutama bakteri aerob dan facultative anaerobic bacteria. Media agar ini mengandung sulfonamida, trimethoprim, dan inhibitor tetrasiklin yang rendah serta memberikan pertumbuhan pathogen yang memuaskan (Acumedia, 2004).
BPA( Baird Parker Agar) digunakan sebagai medium selektif dalam pengujian mikrobiologi bakteri Staphylococcus Aureus. Dalam medium ini terkandung lithium klorida dan tellurit untuk menumbuhkan mikroba-mikroba yang ada dalam sample juga mengandung piruvat dan glisin yang berfungsi untuk mendukung pertumbuhan  bakteri Staphylococcus.
Pada praktikum ini kita hanya melakukan uji pendahuluan untuk melihat bakteri apa aja yang terdapat pada keputihan dan didapatkan bakteri staphylococcus.  Dimana pada kondisi ini bakteri yang secara normal ada pada vagina mengalami peningkatan jumlah/perkembang biakan yang melebihi normal. Hal ini juga dikenal sebagai vagina colonized, dalam keadaan normal terdapat banyak spesies bakteri yang menghuni vagina. Yang paling umum jenis bakteri ini adalah dari genus Lactobacillus. Genera bakteri lain yang ditemukan dalam vagina adalah Staphylococcus, Streptococcus, Proteus, Corynebacterium, dan beberapa orang lainnya. Ketika bakteri penyebab penyakit meningkat jumlahnya, mereka menyebabkan manifestasi ketidaknyamanan, nyeri dan tidak nyaman lain.

 BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan di temukan bahwa jenis bakteri yang mengontaminasi organ reproduksi wanita adalah jenis dari Staphylococcous. Namun hal ini masih perlu di identifikasi lebih jauh lagi lewat uji fisiologis dan biokimia.

DAFTAR PUSTAKA

·         Manuaba, dkk. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, EGC, Jakarta
·         http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/20/jhptump-ump-gdl-windyaguss-975-2-babii.pdf , Diakses 27 Mei 2014











0 komentar:

Post a Comment