BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Kesehatan
reproduksi pada wanita tidak terlepas pada kesehatan organ intimnya. Tentu kita
perlu sadari bahwa menjaga kesehatan reproduksi sangat penting. Salah satu hal
yang dapat kita lakukan adalah menjaga kebersihan atau higienitas, terutama
pada daerah sekitar vagina. Dalam vagina terdapat mikroorganisme (flora normal)
yang bila tidak di jaga dapat terganggu keseimbangan. Bila hal ini terjadi maka
akan timbul gangguan dan keluhan pada daerah tersebut, salah satu gejala adanya
gangguan adalah melalui timbulnya keputihan.
Keputihan
merupakan istilah lazim digunakan oleh masyarakat untuk menyebut penyakit
kandidiasis vaginal yang terjadi pada daerah kewanitaan. Penyakit keputihan
merupakan masalah kesehatan yang spesifik pada wanita. Sebanyak 505 pelajar
putri di sekolah menengah dan perguruan tinggi pernah mengalami keputihan
ketika berusia kurang dari 25 tahun.
Keputihan
bisa dikategorikan normal yaitu berkaitan dengan siklus menstruasi, yang
terjadi menjelang ataupun setelah menstruasi atau bisa juga keluar saat kita
sedangmengalami stress atau kelelahan.
Tetapi
ada juga jenis keputihan akibat suatu gangguan seperti infeksi parasit,
bakteri, jamur atau virus pada vagina. Biasanya keputihan jenis ini bisa
bervariasi dalam warna, berbau, dan disertai keluhan seperti gatal, nyeri atau
terbakar di sekitar vagina.
B.
TUJUAN
Mengetahui jenis bakteri yang menyebabkan terjadinya keputihan pada wanita organ reproduksi wanita.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Keputihan
1.
Pengertian
Keputihan
merupakan masalah klinis yang umum dengan banyak penyebab. Dalam terminologi
terdahulu seperti “non spesifik vaginitis” atau “non spesifik infeksi saluran
kelamin bawah” sering digunakan untuk menggambarkan kondisi yang menyebabkan
keputihan. Keputihan (Leukore/fluor albus/vaginal discharge leukore) merupakan
cairan yang keluar dari vagina. Dalam keadaan biasa, cairan ini tidak sampai
keluar namun belum tentu bersifat patologis (berbahaya). Pengertian lain adalah
setiap cairan yang keluar dari vagina selain darah dapat berupa sekret,
transudasi atau eksudat dari organ atau lesi dari saluran genital. Cairan
normal vagina yang berlebih. Jadi hanya meliputi sekresi dan transudasi yang
berlebih, tidak termasuk eksudat (Mansjoer et al, 2001). Leukorea(keputihan)
yaitu cairan putih yang keluar dari liang senggama secara berlebihan (Manuaba,
2009).
2.
Epidemiologi
Penelitian
secara epidemiologi, fluor albus patologis dapat menyerang wanita mulai dari usia muda, usia reproduksi
sehat maupun usia tua dan tidak mengenal tingkat pendidikan, ekonomi dan sosial
budaya, meskipun kasus ini lebih banyak dijumpai pada wanita dengan tingkat
pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah. Fluor albuspatologis sering
disebabkan oleh infeksi, salah satunya bakteri vaginosis(BV) adalah penyebab
tersering (40-50% kasus terinfeksi vagina), vulvovaginal candidiasis(VC)
disebabkan oleh jamur candida species, 80-90% oleh candida albicans,
trichomoniasis (TM) disebabkan oleh trichomoni asis vaginalis, angka ke
jadiannya sekitar 5-20% dari kasus infeksi vagina (Haryadi, 2011).
3.
Penyebab
Etiologi
fluor albus sampai sekarang masih sangat bervariasi sehingga disebut
multifaktorial. Faktor-faktor tersebut
mengharuskan seorang dokter meningkatkan ketajaman dalam pemeriksaan pasien,
analisis penyebab serta memberikan terapi atau tindakan yang sesuai. Fluor albus dapat dijumpai pada wanita dengan
diagnosa vulvitis, vaginitis, servisitis, endometritis, dan adneksitis.
Mikroorganisme patologis dapat memasuki traktus genitalia wanita dengan
berbagai cara, misalnya seperti senggama, trauma atau perlukaan pada 19
vagina dan serviks, benda asing, alat-alat pemeriksaan yang tidak steril, pada
saat persalinan dan abortus (Candran, 2002). Keputihan disebabkan oleh
beberapahal yaitu infeksi, benda asing, penyakit organ kandungan, kelelahan,
gangguan hormon, pola hidup tidak sehat dan stres akibat kerja. Keputihan
disebabkan oleh adanya perubahan flora normal yang berdampak terhadap derajat
keasaman (pH) organ reproduksi wanita (Indarti, 2004). Burke (2006), menyatakan
bahwa ada beberapa penyebab keputihan. Keputihan fisiologis terjadi ketika pada
masa ovulasi. Selain itu keputihan juga disebabkan oleh adanya infeksi vagina,
infeksi dalam servik, adanya tampon atau benda asing dan adanya keganasanservik.
Vaginitis yang disebabkan oleh infeksi jamur atau protozoa dapat menyebabkan
perubahan keputihan, berbau, terasa gatal, iritasi vulvovaginal, disuria atau
dispareunia tergantung pada jenis infeksi. Vaginosis bakteri terutama ditandai
dengan keluarnya cairan yang berbau busuk, hal tersebut umum terjadi pada
wanita dengan banyak pasangan seks dan disebabkan oleh pertumbuhan berlebih
dari beberapa jenis bakteri anaerob yang fakultatif. Vulvovaginal candididasis ditandai dengan
rasa gatal, dan keluarnya keputihan
seperti keju. Keputihan yang disebabkan oleh trikomonas ditandai dengan
keluarnya cairan yang berwarna kekuningan atau kehijauan yang berlebihan dan kadang-kadang berbusa) (Puriet al, 2003).
Ada
4 penyebab utama yang dapat menyebabkan perubahan flora normal dan memicu
keputihan (Ichwan, 2009):
A.
Faktor Fisiologis
Keputihan
yang bersifat normal (fisiologis) pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada
daerah porsio vagina. Sekret patologik biasanya terdapat pada dinding lateral
dan anterior vagina. Keputihan fisiologis terdiri atas cairan yang
kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang
jarang. Sedangkan pada keputihan yang patologik terdapat banyak leukosit.
Keputihan yang fisiologis dapat ditemukan pada:
(1)Waktu
disekitar menarche karena mulai terdapat
pengaruh estrogen; keputihan ini dapat menghilang sendiri akan tetapi dapat
menimbulkan kecemasan pada orang tua.
(2)Wanita
dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh
pengeluaran transudat dari dinding vagina.
(3)
Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelanjar serviks uteri
menjadi lebih encer.
(4)
Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada
wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan
ektropion porsionis uteri(Wiknjosastro, 2005).
B.
Faktor konstitusi
Faktor
konstitusi misalnya karena kelelahan, stres emosional, karena ada masalah dalam
keluarga atau pekerjaan, bisa juga karena penyakit yang melelahkan seperti gizi
yang rendah ataupun diabetes. Bisa juga disebabkan oleh status
imunologis yang menurun maupun obat-obatan. Diet yang tidak seimbang juga dapat
menyebabkan keputihan terutama diet dengan jumlah gula yang berlebihan, karena
merupakan faktor yang sangat memperburuk terjadinya keputihan (Ichwan, 2009).
Diet memegang peranan penting untuk mengendalikan infeksi jamur. Dengan makanan
yang cukup gizikita bisa membantu tubuh kita memerangi infeksi dan mencegah
keputihan vagina yang berlebihan. Hindari makanan yang banyak mengandung
karbohidrat dengan kadar gula tinggi seperti tepung, sereal, dan roti. Makanan
dengan jumlah gula yang berlebihan dapat menimbulkan efek negatif pada bakteri
yang bermanfaat yang tinggal di dalam vagina. Selaput lendir dinding vagina
mengeluarkan glikogen, suatu senyawa gula. Bakteri yang hidup di vagina disebut
lactobacillus(bakteri baik) meragikan gula ini menjadi asam laktat. Proses ini
menghambat pertumbuhan jamur dan menahan perkembangan infeksi vagina. Gula yang
dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan bakteri lactobacillus tidak dapat
meragikan semua gula ke dalam asam laktat dan tidak dapat menahan pertumbuhan
penyakit, maka jumlah menjadi meningkat danjamur atau bakteri perusak akan
bertambah banyak (Clayton, 2005).
C.
Faktor iritasi
Faktor iritasi sebagai penyebab keputihan meliputi,
penggunaan sabun untuk mencuci organ intim, iritasi terhadap pelicin, pembilas
atau pengharum vagina, ataupun bisa teriritasi oleh celana (Ichwan, 2009).
Keputihan
patologis akibat infeksi diakibatkan oleh infeksi alat reproduksi bagian bawah
atau pada daerah yang lebih proksimal, yang bisa disebabkan oleh infeksi
gonokokus, trikomonas, klamidia, treponema, candida, human papiloma virus, dan
herpes genitalis(Koneman, 1992).
(1)Bakteri
(a)Gonococcus
Penyebab
gonococcus adalah coccus gram negatif “Neisseria gonorrhoeae” ditemukan oleh
Neisser pada 1879. Neisseria gonorrhoeae adalah diplokokus berbentuk biji kopi,
bakteri yang tidak dapat bergerak, tidak memiliki spora, jenis diplokokkus gram
negatif dengan ukuran 0,8-1,6 mikro, bersifat tahan asam. Bakteri gonokokkus
tidak tahan terhadap kelembaban, yang cenderung mempengaruhi transmisi seksual.
Bakteri ini bersifat tahan terhadap oksigen tetapi biasanya memerlukan 2-10%CO2
dalam pertumbuhannya di atmosfer. Bakteri ini membutuhkan zat besi untuk tumbuh dan
mendapatkannya melalui transferin, laktoferin dan hemoglobin. Organisme ini
tidak dapat hidup pada daerah kering dan suhu 25 rendah, tumbuh
optimal pada suhu 35-37°C dan pH 7,2-8,5 untuk pertumbuhan yang optimal. Pada
sediaan langsung dengan gram, bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan
pewarnaan gram bersifat gram negatif, terlihat di luar dan dalam leukosit,
kuman ini tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, dan
tidak tahan zat desinfektan. Secara morfologikgonokok terdiri atas 4 tipe,
yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili dan bersifat virulen, serta 3 dan 4 yang
tidak mempunyai pili dan bersifat nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa
epitel dan akan menyebabkan reaksi radang. Organisme ini menyerang membran
mukosa, khususnya epitel kolumnar yang terdapat pada uretra, servik uteri,
rectum, dan konjungtiva.
(b) Clamidya Trachomatis
Bakteri
ini sering menyebabkan penyakit mata yang dikenal dengan penyakit traukom.
Bakteri ini juga dapat ditemukan pada cairan vagina yang berwarna kuning
seperti pus. Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang abnormal. Dan
terlihat melalui mikroskop setelah diwarnai dengan pewarnaan Giemsa. Bakteri
ini membentuk suatu badan inklusi yang berada dalam sitoplasma sel-sel vagina.
Gardanerella
menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang dianggap sebagai
bagian dari mikroorganisme normal dalam vagina karena seringnya ditemukan.
Bakteri ini biasanya mengisi penuh sel epitel vagina dengan membentuk bentukan
khas dan disebut clue cell. Pertumbuhan yang optimal pada pH 5-6,5.
(d) Treponema Palidum
Bakteri
ini merupakan penyebab penyakit sifilis. Pada perkembangan penyakit dapat
terlihat sebagai kutil-kutil kecil di vulva dan vagina yang disebut
kondilomalata. Bakteri berbentuk spiral panjang 6-15 μ, lebar 0, 25 μ, lilitan
9-24 dan tampak bergerak aktif (gerak maju & mundur, Berotasi undulasi sisi
ke sisi) pada pemeriksaan mikroskopis lapangan gelap.
(2)
Parasit (Trichomonas Vaginalis)
Parasit
ini berbentuk lonjong dan mempunyai bulu getar dan dapat bergerak
berputar-putar dengan cepat. Gerakan ini dapat dipantau dengan mikroskop. Cara
penularan penyakit ini dengan senggama. Walaupun jarang dapat juga ditularkan
melalui perlengkapan mandi, seperti handuk atau bibir kloset.
Cairan
yang dikeluarkan biasanya kental, berwarna putih susu seperti susu pecah atau
seperti keju, dan sering disertai gatal, vagina tampak kemerahan akibat proses
peradangan. Dengan KOH 10% tampak sel ragi (blastospora) dan hifa semu
(pseudohifa). Beberapa keadaan yang
dapat merupakan tempat yang subur bagi pertumbuhan jamur ini adalah kehamilan,
diabetes mellitus, pemakai pil kontrasepsi. Pasangan penderita juga biasanya
akan menderita penyakit jamur ini. Keadaan yang saling menularkan antara
pasangan suami-istri disebut sebagai fenomena ping-pong.
(4)Virus
(a)Herpes Simplek
Virus
herpes yang paling sering (> 95%) adalah virus herpes simpleks tipe 2 yang
merupakan penyakit yang ditularakan melalui senggama, namun 15%-35% dapat juga
disebabkan virus herpes simpleks tipe 1. Pada awal infeksi tampak kelainan
kulit seperti melepuh seperti terkena air panas yang kemudian pecah dan
menimbulkan luka seperti borok. Pasien merasa kesakitan.
(b)Human Papilloma Virus
Papovavirus
merupakan virus kecil (diameter 45-55 μm) yang mempunyai genom beruntai ganda
yang sirkuler diliputi
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
ALAT
1.
Petri
2.
Kapas steril
3.
Ose
4.
Bunsen
5.
Laminar air flow
6.
Elemeyer
B.
BAHAN
1.
Medium MHA
2.
Air pepton
C.
CARA KERJA
Siapkan kapas steril , sweep vagina
dengan kapas steril
↓
Masukkan kapas yang sudah di sweep
kedalam air pepton tunggu hingga 1 jam
↓
Dengan menggunakan ose kita oleskan
keputihan yang ada di airpepton ke medium MHA
↓
Disimpan dalam inkubator selama
24-48 jam dengan suhu 37⁰C
↓
Setelah diamati pindahkan ke BPA
↓
Amati dan identifikasi bakteri yang
ada disana.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
HASIL
No. Sampel
|
Spesimen
|
Kelompok
|
Pada MHA
|
Pada BPA
|
Identifikasi dini
|
1
|
Keputihan
|
1
|
Koloni
Coklat
|
Koloni
hjau
|
|
2
|
Keputihan
|
1
|
Koloni
Putih
|
Koloni
hitam
|
Staphylococcous
|
3
|
Keputihan
|
2
|
|||
4
|
Keputihan
|
2
|
|||
5
|
Keputihan
|
3
|
-
|
-
|
-
|
6
|
Keputihan
|
3
|
-
|
-
|
-
|
7
|
Keputihan
|
4
|
Koloni
Putih
|
-
|
-
|
8
|
Keputihan
|
4
|
Koloni
Putih
|
-
|
-
|
B. PEMBAHASAN
Flora
normal di dalam vagina membantu menjaga keasaman pH vagina, pada keadaan yang
optimal. pH vagina seharusnya antara 3,5-5,5, namun flora normal ini bisa
terganggu misalnya karena pemakaian antiseptik untuk daerah vagina bagian
dalam. Ketidakseimbangan yang terjadi pada daerah vagina bisa mengakibatkan
tumbuhnya jamur dan kuman-kuman yang lain. Padahal flora normal dibutuhkan
untuk menekan tumbuhan yang lain agar tidak tumbuh subur. Jika keasaman dalam
vagina berubah maka kuman-kuman lain dengan mudah akan tumbuh sehingga
akibatnya bisa terjadi infeksi yang akhirnya menyebabkan keputihan, yang berbau,
gatal, dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Pada
praktikum ini keputihan yang telah di sweep menggunakan kapas steril kita
masukkan kedalam air pepton 1% ini dikarenakan air pepton tidak akan membuat
bakteri semakin berkembang biak dan bakteri juga tidak akan mati. Selanjutnya
bakteri akan dipindahkan kedalam medium MHA( Muller Hinton Agar ) dimana medium
ini untuk tes antibakteri terutama bakteri aerob dan facultative anaerobic
bacteria. Media
agar ini mengandung sulfonamida, trimethoprim, dan inhibitor tetrasiklin yang
rendah serta memberikan pertumbuhan pathogen yang memuaskan (Acumedia, 2004).
BPA( Baird Parker Agar) digunakan sebagai
medium selektif dalam pengujian mikrobiologi bakteri Staphylococcus Aureus.
Dalam medium ini terkandung lithium klorida dan tellurit untuk menumbuhkan
mikroba-mikroba yang ada dalam sample juga mengandung piruvat dan glisin yang
berfungsi untuk mendukung pertumbuhan bakteri Staphylococcus.
Pada praktikum ini kita hanya melakukan uji
pendahuluan untuk melihat bakteri apa aja yang terdapat pada keputihan dan
didapatkan bakteri staphylococcus.
Dimana pada kondisi ini bakteri yang secara normal ada pada vagina
mengalami peningkatan jumlah/perkembang biakan yang melebihi normal. Hal ini
juga dikenal sebagai vagina colonized, dalam keadaan normal terdapat banyak
spesies bakteri yang menghuni vagina. Yang paling umum jenis bakteri ini adalah
dari genus Lactobacillus. Genera bakteri lain yang ditemukan dalam vagina
adalah Staphylococcus, Streptococcus, Proteus, Corynebacterium, dan beberapa
orang lainnya. Ketika bakteri penyebab penyakit meningkat jumlahnya, mereka
menyebabkan manifestasi ketidaknyamanan, nyeri dan tidak nyaman lain.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan di temukan bahwa jenis bakteri yang mengontaminasi organ reproduksi wanita adalah jenis dari Staphylococcous. Namun hal ini masih perlu di identifikasi lebih jauh lagi lewat uji fisiologis dan biokimia.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Manuaba, dkk. 2009. Memahami Kesehatan
Reproduksi Wanita, EGC, Jakarta
·
http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/20/jhptump-ump-gdl-windyaguss-975-2-babii.pdf
, Diakses 27 Mei 2014
·
http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-230-1766199020-bab%20vi.pdf , Diakses 27 Mei 2014


0 komentar:
Post a Comment