Welcome to The Science Shine All the articles here are originally based on my own experiences. feel free to poke around on the site!

Friday, November 27

KAMBING TUA (DISKRIMINASI dalam bentuk LABEL)

"Kambing Tua" siapa sih yang memberi julukan seperti ini pada mahasiswa-mahasiswi yang sudah melewati banyak semester di kampus. Honestly, saya sangat tidak setuju dengan label yang diciptain dilingkungan kampus ini. parahnya para dosen pun tak segan untuk menyebut nama mereka dengan sebutan kasar ini. Sometimes, it's really unfair you know! emang kita tau hidup yang mereka lewatin seperti apa, emang kita bakal peduli juga kalau saja ternyata kondisi keuangan merekalah yang menjadi salah satu alasannya, dan apa kita perlu tau seluk beluk permasalahan hidup mereka sehingga memakan waktu lama di bangku kuliah. NO! you just give them that lable for your own happiness. beberapa orang memuaskan mulut dan pikiran mereka ketika sanggup membandingkan dirinya lebih baik dari orang lain bahkan sampai berkata "amit-amit jangan sampai gw kayak dia dah tua masih juga dikampus." seseorang pernah ngomong kayak gini ke saya " 'Ca kok lu masalah, itu kan bisa jadi pelajaran buat kita biar gak jadi kayak mereka." hellooo Who do you think you are ? sampai bisa merasa berbeda golongan dari mereka kan bukan kita yang bayarin kuliahnya, apalagi nanggung masa depan dia besok lusa. apa dia nyusahin hidup, keluarga, dan masa depan akhirat lu? haha gak kan!!! kalian gak tau apa-apa soal hidup mereka so siapa lu bisa bilang mereka pelajaran buruk dan lu bakal jadi pelajaran baik buat orang lain. hadeuhhhhh syempiiiittt pikiran lu coiii!! ingat, bullying itu bukan cuman saat kamu nunjuk langsung ke arah orangnya aja sambil menghina dan nonjok kepalanya, dengan merasa diri kalian paling pintar dan lebih baik dengan orang lain lewat tatapan mata sinis atau mengumbar itu dibelakang orangnya dalam bentuk kelompok agar jadi gosip terhangat sejagad kampus itu bullying terparah loh bro sis! mental yang akan rusak, fisik masih bisa lu sembuhin tapi kalau mental susah! apalagi kalian gak tau efek panjangnya kan, bisa saja dia malah gak mau melanjutkan kuliahnya hanya karena tatapan dan sikap unfair kalian. kan kasian masa depan orang hancur karena sikap selfisih dan childish kalian.
Penulis punya banyak kenalan para mahasiswa senior dikampus yang mengalami hal semacam ini. tapi thanks God mereka bisa lewatin itu semua dan bisa lindungi diri mereka. Jujur aja penulis lebih nyaman temenan sama mereka dibanding yang lain. karena pengalaman mereka luar biasa coiii, dan senangnya lagi mereka selalu memberikan nasihat yang sangat membangun agar jangan sampai mengulangi kesalahan seperti mereka di masa kuliah pertama dulu. Puji Tuhan akhirnya kita bisa lulus bareng-bareng dan sampai sekarang tetap keep in touch bahkan ada beberapa dari mereka sudah memiliki pekerjaan yang mapan di daerah asalnya. dan ada juga yang sempat nawarin kerja di tempat mereka karena mereka udah punya posisi penting ternyata. heheheh belajar dari pengalaman mereka, banyak kisah di belakangnya, mulai dari cerita ketidak dewasaan mereka di masa muda dan sempat terpengaruh pergaulan kota yang bebas ada juga yang mengalami kesulitan keuangan sehingga harus bekerja terlebih dahulu, parahnya lagi ada yang karena sering dikucilkan dan gak punya geng jadi malu deh masuk kampus, hehehe tapi malah yang satu ini lah yang sekarang paling sukses diantara yang lainnya. bangga deh sama dia. hi kak "L' kalau baca tulisan aku mampir comment yaa. hihihi.terkadang kalau ngunjungin facebook mereka aku suka bahagia sendiri dan cengar cengir sambil doain agar mereka selalu bahagia dan sukses dalam hidupnya dan membuktikan diri pada si KAMBING MUDA kalau ada kekuatan besar yang tidak sengaja kalian bangkitkan dalam diri orang-orang yang kalian anggap rendah.. So, Stop ngasih label apalagi bentuk gologan-golangan rasis di kampus. kita di jaman modern coiiii, harus bisa berpikiran terbuka, karena kita bukan hidup di jaman No madden, yang lemah di makan, hadeuhhhh "_" lambat bukan berarti gagal, nilai juga bukan segalanya yang penting itu atitude, pengalaman dan kebaikan hati bukan rasis dan sok pintar. weleehh palingalergi deh sama orang rasis!!

Friday, May 30

DASAR TEORI PENGGUNAAN PCR by : Gracia Imelda Else Ubas

BABII
TINJAUAN PUSTAKA
           
Protein adalah makromolekul yang secara fisik dan fungsional kompleks yang melakukan beragam peran penting. Untuk meneliti sifat-sifat fisik dan fungsional suatu protein secara rinci, diperlukan protein yang sangat murni. Sel mengandung ribuan protein yang berlainan, masing-masing dengan jumlah yang sangat bervariasi. Untuk memisahkan masing-masing protein dari campuran kompleks sering digunakan pelarut atau elektrolit (atau keduanya) untuk mengeluarkan fraksi protein yang berbeda sesuai  karakteristik kelarutannya. Hal ini adalah dasar dari sesuatu yang disebut sebagai metode salting-out, yang digunakan dalam penentuan fraksi protein di laboratorium klinik. Oleh karena itu, kita dapat memisahkan protein plasma menjadi tiga kelompok besar –fibrinogen, albumin, dan globulin berdasarkan pemakaian natrium atau amonium sulfat dengan berbagai konsentrasi.
Metode yang paling sering digunakan untuk menentukan kemurnian suatu protein adalah SDS-PAGE-elektroforesis gel poliakrilamid (polyacrylamide gel electrophoresis, PAGE) dengan menggunakan deterjen anionik natrium dodesil sulfat (sodium dodecyl sulfate, SDS). Elektroforesis memisahkan biomolekul-biomolekul bermuatan berdasarkan laju migrasi biomolekul tersebut dalam medan listrik. Pada SDS-PAGE, akrilamid mengalami polimerisasi dan pengikatan silang untuk menghasilkan matriks berpori. SDS mendenaturasi dan mengikat protein dengan perbandingan satu molekul SDS per dua ikatan peptida. Jika digunakan bersama 2-merkaptoetanol atau ditiotreitol untuk mereduksi dan memutus ikatan disulfida, SDS memisahkan komponen polipeptida dari protein multimerik. Jumlah molekul SDS anionik yang besar, masing-masing bermuatan -1, di masing-masing polipeptida mengalahkan muatan yang ditimbulkan oleh gugus fungsional asam amino. Karena perbandingan muatan terhadap massa masing-masing kompleks SDS-polipeptida kira-kira sama, resistensi fisik yang dijumpai masing-masing peptida sewaktu bergerak melintasi matriks akrilamid menentukan laju migrasi. Karena kompleks besar menemui resistensi yang lebih besar, polipeptida-polipeptida akan terpisah berdasarkan massa molekul relatif polipeptida tersebut. Setiap polipeptida yang terperangkap dalam gel akrilamid divisualisasikan dengan pulasan zat pewarna, seperti Coomassie blue.
Reaksi berantai polimerase (Polymerase Chain Reaction, PCR) adalah suatu metode enzimatis untuk melipatgandakan secara eksponensial suatu sekuen nukleotida tertentu dengan cara in vitro. Metode ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1985 oleh Kary B. Mullis seorang peneliti di perusahaan CETUS Corporation.
Metode ini sekarang telah  banyak digunakan untuk berbagai macam manipulasi dan analisis genetik. Pada awal  perkembangannya metode ini hanya digunakan untuk melipatgandakan molekul DNA, tetapi kemudian dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat digunakan pula untuk melipatgandakan dan melakukan kuantitasi molekul mRNA (Yuwono, 2006).
Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah cara in vitro untuk memperbanyak target sekuen spesifik AN untuk analisis cepat atau karakterisasi, walaupun material yang digunakan pada awal pemeriksaan sangat sedikit. Pada dasarnya PCR meliputi tiga perlakuan yaitu:denaturisasi, hibridisasi dari "primer" sekuen DNA pada bagian tertentu yang diinginkan, diikuti dengan perbanyakan bagian tersebut oleh Tag polymerase; dikerjakan dengan mengadakan campuran reaksi dalam tabung mikro yang kemudian diletakkan pada  blok pemanas yang telah diprogram pada seri temperatur yang diinginkan (Prijanto, 1992)
Siklus PCR diawali oleh denaturasi pada suhu 94°C yang berfungsi untuk mengubah DNA untai ganda menjadi untai tunggal. Selanjutnya adalah tahap annealing (penempelan) yaitu pengikatan primer pada DNA untaitunggal yang dilakukan pada suhu 50°C. Akhir dari proses amplifikasi ini adalah polimerisasi (pemanjangan rantai) pada suhu 72°C. Pada tahap polimerisasi diperlukan primer, buffer, enzim DNA polimerase, dan dNTPs untuk pemanjangan rantai (Gumilar, dkk., 2008).
Penggunaan dNTP sebagai building blocks berfungsi untuk menyediakan sumber basa nukleotida yang akan digunakan pada polimerisasi. Ada 4 macam dNTP dimana sesuai dengan basa penyusun DNA, yaitu dATP, dCTP, dGTP dan dTTP. Buffer PCR terdiri atas Tris-HCl, KCl dan Triton X-100 berfungsi untuk mengkondisikan reaksi PCR agar berjalan optimum danmenstabilkan enzim DNA polimerase. Ion logam yang digunakan berfungsi sebagai kofaktor enzim polimerase sehingga dapat bekerja optimal.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN



1. uji latex

2. Hasil PCR menggunakan primer dan sample DNA



Dapat dilihat pada uji latex yang kita lakukan hanya isolat 1 pada kolam ke-6 yang mengalami koagulasi dan ini menunjukkan isolat 12 positif , Hasil uji positif ini meneguhkan  bahwa isolat yang diuji 100% merupakan  isolat  E.coli  O157. Identifikasi ini  mengacu pada prosedur pabrik (Oxoid), yang menyatakan bahwa uji  lateks  E.  coliO157 merupakan uji yang sangat akurat dengan tingkat sensitivitas 100% sertatingkat spesifisitas 99% (Anonim, 1998). Dari uji ini kita dapat melanjutkan kepada uji PCR yang dimana pada praktikum ini kita menggunakan isolat 1, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 kondisi PCR yang digunakan heat lid 110.0C dengan  Siklus PCR yang diawali oleh denaturasi pada suhu 94°C  selama 1 menit yang berfungsi untuk mengubah DNA untai ganda menjadi untai tunggal. Selanjutnya adalah tahap annealing (penempelan) yaitu pengikatan primer pada DNA untai tunggal yang dilakukan pada suhu 64°C selama 30 menit. Akhir dari proses amplifikasi ini adalah polimerisasi (pemanjangan rantai) pada suhu 72°C selama 1 menit.
            Uji PCR ini menggunakan primer gyrB (UP1S dan UP2Sr) ini merupakan primer universal untuk amplifikasi , dengan 1205bp  penambahan DreamTaq Green PCR Master Mix , kemudian dilanjutkan dengan penambahan dH2O sebagai pelarut dan didapatkan hasil  isolat 1,4 dan 10. Pada isolat lain tidak terdeteksi hal ini bisa disebabkan oleh kesalahan pada proses isolasi DNA.
Komponen-komponen yang dibutuhkan dalam PCR antara lain templat DNA, primer, buffer, MgCl2, Taq polymerase, ddNTPs, ddH2O. Templat DNA merupakan supernatan hasil lisis sel yang berisi DNA yang ingin diamplifikasi. Primer disusun dari sintesis oligonukleotida sepanjang 15-32 bp dan mampu mengenali urutan yang akan diamplifikasi. Standar sepasang primer untuk amplifikasi mempunyai kisaran pasangan basa sekitar 20 basa panjangnya pada tiap primernya. Kandungan basa guanin dan sitosin berada diantara 45-60%.




DAFTAR PUSTAKA


.



HASIL PRAKTIKUM FLORA NORMAL PADA MANUSIA by : Gracia Imelda Else Ubas

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mikroflora normal manusia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai macammikroorganisme sepertibakteri dan fungi yang merupakan penghuni tetap dari bagian-bagian tubuh tertentu khususnya kulit, usus besar, dan vagina. Bakteri ini terkadang sangat sulit dibedakan dengan bakteri pathogen yang menyebabkan penyakit pada setiap tubuh kita yang terluka maupun tidak terluka tetapi dihuni oleh bakteri pathogen tersebut. Dalam membedakan bakteri pathogen ataupun mikroorganisme flora normal tidak memiliki batasan yang jelaskarena hal tersebut bergantung dengan keadaan di lingkungan sekitar dan juga keadaan manusia dimana flora normal tersebut tumbuh.Untuk mengetahui specimen tersebut adalah pathogen atau bukan biasanya diperlukan proses analisis specimen tersebut dinamakan uji specimen klinik dengan cara mengambil specimen tersebut dan menanamnya pada medium yang disediakan untuk tempat tumbuh bakteri tersebut kemudian dilakukan pewarnaan untuk mengetahui jenis bakteri pathogen ataukah mikroorganisme flora normal yang terdapat dalam media tumbuh tersebut.
Dalam praktikum ini kami menggunakan specimen dari tangan dalam keadaan sebelum dan sesudah dicuci,kita ingin melihat apakah ada perbedaan hasil uji antara sebelum dan sesudah mencuci tangan. Karena mencuci tangan saja dinilai belum cukup efektif untuk menghilangkan bakteri ditangan kita karena merupakan bakteri flora normal.

B. Tujuan
Ø  Untuk memberi gambaran tentang adanya flora normal dalam tubuh manusia.



BAB II
DASAR TEORI
v  Mikrobiologi Umum
Dalam bidang mikrobiologi, dipelajari mengenai mikroba yang meliputi bakteri, fungi atau mikroorganisme lainnya, baik dalam morfologi dan penampakan koloninya. Karena itu, untuk melihat dengan jelas penampakan mikroba tersebut, terlebih dahulu kita membuat biakan suatu organisme. Sebelumnya, bahan serta peralatan harus dalam keadaan steril, artinya pada bahan dan peralatan yang ingin dipergunakan tidak terdapat mikroba lain yang tidak diharapkan. Proses dari kegiatan steril disebut sterilisasi ( Amelia E.,2007).

Sementara itu, untuk menumbuhkan mikroorganisme yang sudah dibiakkan (murni) digunakan media. Media merupakan campuran dari beberapa zat-zat makanan untuk pertumbuhan mikroba dan berfungsi sebagai nutrisi bagi mikroba tersebut. Media dibedakan berdasarkan fase (sifat fisik media), yaitu media padat, media setengah padat, media cair, dan berdasarkan komposisinya, yaitu media sintesis, media semi sintesis, dan media non sintesis. Dari media tersebut, maka kita dapat mengetahui sifat dan bentuk (koloni) dari mikroba ( Yuranto, 2006)

Saat ini media agar merupakan media yang sangat umum digunakan dalam penelitian-penelitian mikrobiologi. Media agar ini memungkinkan untuk dilakukannya isolasi bakteri dari suatu sampel, karakterisasi morfologi, sampai penghitungaan bakteri yang dikenal dengan nama total plate count. Bentuk koloni bakteri dan warna-warninya mudah sekali dikenali dengan media ini dengan cara mengubah komposisi nutrien atau menambahkan indikator. Komposisi media bakteri dapat dimodifikasi sehingga dapat digolongkan menjadi media umum, media selektif (bakteri tertentu saja yang dapat tumbuh) dan media diferensial (bakteri tumbuh dengan memberikan ciri-ciri tertentu) (Achmad, 2007).


v  Medium Pertumbuhan
Potato Dextrose Agar (PDA) merupakan media yang sangat umum yang digunakan untuk mengembangbiakkan dan menumbuhkan jamur dan khamir. Komposisi Potato Dextrose Agar ini terdiri dari bubuk kentang, dextrose dan juga agar. Bubuk kentang dan juga dextrose merupakan sumber makanan untuk jamur dan khamir (Bunawan, 2009).

Potato Dextrose Agar juga bisa digunakan untuk menghitung jumlah mikroorganisme menggunakan metode Total Plate Count. Perindustrian seperti industri makanan, industri produk susu dan juga kosmetik menggunakan PDA untuk menghitung jumlah mikroorganisme pada sample mereka. Karena fungsinya yang dapat mengembangbiakkan jamur, sekarang ini PDA juga banyak digunakan oleh pembudidaya jamur seperti jamur tiram. Untuk memaksimalkan pertumbuhan bibit jamur, biasanya pembudidaya mengatur kondisi pH yang rendah (sekitar 3,5) dan juga menambahkan asam atau antibiotik untuk menghambat terjadinya pertumbuhan bakteri.


v  Bakteri Flora Normal
Manusia secara konstan berhubungan dengan beribu-ribu mikroorganisme. mikrobia tidak hanya terdapat dilingkungan, tetapi juga menghuni tubuh manusia. mikrobia yang secara alamiah menghuni tubuh manusia disebut flora normal, atau mikrobiota. Selain itu juga disebutkan bahwa, flora normal adalah kumpulan mikroorganisme yang secara alami terdapat pada tubuh manusia normal dan sehat. Kebanyakan flora normal yang terdapat pada tubuh manusia adalah dari jenis bakteri. Namun beberapa virus, jamur, dan protozoa juga dapat ditemukan pada orang sehat (Michael J., 2008).

Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/ indigenous) yaitu mikroorganisme jenis tertentu yang biasanya ditemukan pada bagian tubuh tertentu dan pada usia tertentu. Keberadaan mikroorganismenya akan selalu tetap, baik jenis ataupun jumlahnya, jika ada perubahan akan kembali seperti semula. Flora normal/tetap yang terdapat pada tubuh merupakan organisme komensal. Flora normal yang lainnya bersifat mutualisme. Flora normal ini akan mendapatkan makanan dari sekresi dan produk-produk buangan tubuh manusia, dan tubuh memperoleh vitamin atau zat hasil sintesis dari flora normal. Mikroorganisme ini umumnya dapat lebih bertahan pada kondisi buruk dari lingkungannya (Michael J., 2008).

Ada bermacam-macam flora normal  atau sering juga disebut bakteri dan jamur yang ada dapa tubuh kita, misalnya bakteri yang berda pada pada kulit , mikroorganisme utama pada kulit adalah difteroid aerobic dan anaerobic (misalnya corynebacterium, propionibacterium), stafilokokkus aerobic dan anaerobic non hemolitikus Staphylococcus epidermidis, kadang-kadang Staphylococcus aureus dan golongan peptostreptococcus), basil gram postif aerobic, bakteri pembentuk spora yang banyak terdapat di udara, air, tanah  Streptococcus alfa hemoliticus (Viridians) dan Enterococcus; dan basil coliform gram negative serta acitenobacter. Jamur dan ragi sering terdapat pada lipatan-lipatan kulit micro bacteria tahan asam nonpatogen terdapat pada daerah-daerah yang kaya sekresi lemak/sebum (genital, telingan bagian luar) ( Bernstein, 2006).

Faktor-faktor yang berperan menghilangkan flora sementara pada kulit adalah pH rendah, asam lemak dan adanya lisozim. Jumlah mikroorganisme pada permukaan kulit mungkin bisa berkurang dengan cara menbersihkan tangan/tubuh dengan sabun yang mengandung heksaklorofen atau desinfektan lain, namun flora secara cepat muncul kembali dari kelenjar keringat ( Bernstein, 2006).

Flora normal pada mulut dan saluran nafas bagian atas pada hidung terdapat flora normal utama yaitu dari corinebacteria, staphylococcus (S. epidermidids, S. aureus) dan Streptococcus. saat lahir, selaput lendir (mukosa) pada mulut dan faring akan terkontaminasi oleh flora. kemudian setelah 4 – 12 jam setelah lahir flora seperti Streptococcus viridians menjadi flora tetap yang utama sepanjang hidup. Ketika gigi mulai tumbuh, akan muncul spirochaeta anaerob, spesies Prevotella (terutama P. melaninogenica), spesies Fusobakterium, spesies Rothia dan spesies Capnocytophaga muncul secara bersamaan dengan vibrio anaerob dan Lactobasili. Spesies Actinomyces secara normal terdapat pada jaringan tonsil dan pada gingival orang dewasa, begitu pula dengan beberapa protozoa. Begitu pula dengan ragi (spesies candida) terdapat pada mulut ( Bernstein, 2006).

Flora normal pada faring dan trakhea, pada daerah ini juga terdapat flora normal yang sama. organism normal pada saluran nafas bagian atas, teruatama pada faring adalah Streptococcus non hemoliticus dan alfa hemoliticus serta Neisseria ( Bernstein, 2006).

Flora normal pada saluran pencernaan. Saat lahir, kondisi usus steril namun organisme akan segera masuk bersamaan dengan makanan yang dimakan oleh bayi.  Saat menyusui, usus akan mengandung flora seperti Streptococcus asam laktat dan Lactobacilli dalam jumlah besar. Organisme aerob dan anaerob, gram positif, non motil ini menghasilkan asam dari karbohidrat dan tahan pada pH 5,0. Pada orang dewasa, esophagus terdiri atas mikroorganisme yang masuk bersama dengan saliva dan makanan. pH asam lambung yang di hasilkan akan melindungi terhadap infeksi bakteri pathogen usus seperti cholera. Pada duodenum terdapat 105 – 108 bakteri/gram. Pada usus halus bagian atas, Lactobacillus dan Enterococcus mendominasi dan pada usus halus bagian bawah yang mendominasi adalah flora tinja. Pada kolon sigmoid dan dan rectum, terdapat sekitar 1011bakteri/gram isi kolon ( Bernstein, 2006). Flora normal pada uretra, uretra anterior baik itu pada wanita ataupun pria mengandung sedikit mikroorganisme yang berjenis sama seperti pada kulit dan perineum. Mikroorganisme ini terdapat dalam air kemih normal dengan jumlah 102 – 104/ ml ( Bernstein, 2006).

Flora normal pada vagina. Saat lahir, Lactobacil aerob muncul dalam vagina dan menetap selama ph tetap asam. apabila ph ini menjadi netral akan terdapat flora campuran yaitu coccus dan bacil. Saat pubertas, Lactobacil aerob dan anaerob ditemukan kembali dalam jumlah yang besar dan akan mempertahankan keasaman ph melalui pembentukan asam dari karbohidrat khususnya glikogen. Keuntungan pembentukan asam ini yaitu untuk mencegah bakteri yang bersifat pathogen dalam vagina. Setelah monopause, Lactobacil akan berkurang jumlahnnya dan flora campuran coccus dan bacil akan muncul kembali ( Bernstein, 2006).

Flora normal pada mata (konjungtiva) mikroorganisme yang terdapat pada mata yang paling utama adalah difteroid (Corynebacterium xerosis), S. epidermidis dan Streptococcus non hemolitik ( Bernstein, 2006). Flora normal ini dikendalikan oleh lisozim yang terdapat pada air mata. Flora normal adalah kumpulan organisme yang umum ditemukan pada orang sehat normal dan hidup rukun berdampingan   dalam hubungan yang seimbang dengan host-nya. Kebanyakan   flora normal  adalah bakteri. Beberapa virus, jamur dan protozoa juga dapat ditemukan   pada orang sehat . Diperkirakan bahwa manusia dihuni sekitar   10 pangkat 14 bakteri, terutama di usus besar.  Dalam keadaan tertentu (stress, immunocompromised atau bayi yang baru lahir) dapat menyebabkan penyakit ( Bernstein, 2006).

Flora normal diperoleh dengan cepat selama dan segera setelah lahir, dan perubahan terus-menerus selama pertumbuhan  terkait umur, gizi dan lingkungan individu. Misalnya, pada bayi yang diberi ASI langsung dapat ditemukan  Streptococus dan Lactobacilli pada saluran pencernaannya, sedangkan yang diberi minum botol  menunjukkan rentang organisme.yang lebih luas dan banyak. Organisme flora normal biasanya  ditemukan di bagian-bagian tubuh yang kontak dengan lingkungan   (kulit, hidung dan mulut, usus dan saluran urogenital). Organ-organ dan jaringan biasanya steril.

Adapun fungsi dari flora normal ini yaitu, Flora normal mampu mencegah kolonisasi bakteri patogen potensial, apakah dengan melepaskan faktor antibakteri     (bacteriocins, colicins) dan produk-produk limbah metabolik bersama dengan berkurangnya oksigen yang tersedia dan mencegah pembentukan spesies lainnya. Misalnya, bakteri lactobacilli menjaga supaya  lingkungan mereka  tetap    asam sehingga dapat menekan pertumbuhan organisme lain. Bakteri usus juga melepaskan faktor-faktor   metabolik, memproduksi vitamin B dan K . Selain itu, diperkirakan bahwa stimulasi antigenik dilepaskan oleh flora adalah penting untuk perkembangan   sistem kekebalan tubuh normal, dan juga ada masalah yang ditimbulkan oleh flora normal ini yaitu adanya potensi risiko menyebar ke daerah tubuh yang normalnya steril tubuh, yang dapat terjadi dalam berbagai situasi, misalnya, saat usus berlubang atau cedera kulit  atau pencabutan  gigi (Streptococus viridans bisa masuk aliran darah) atau Escherichia coli dari  perianal  naik ke uretra, yang menyebabkan infeksi saluran kemih ( Asani, 2008).



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metodologi Pemeriksaan Sampel Flora Normal
Alat:

1.      Cotton swab steril
2.      Petridish
3.      Jarum ose
4.      Laminair flow
5.      Mikroskop
6.      Mesin PCR

Bahan:
1.      Media BHI broth
2.      Pepton 0,1%
3.      Media Baird Parker Agar (BPA)
4.      Media CHROMagar Staph.
5.      Media Manitol Salt Agar (MSA)
6.      Media Muller Hilton Agar (MHA)
7.      Media de Mann Rogosa Sharpe Agar (MRSA)
8.      Cat gram
Ø  Metode

  1. Pengambilan sampel
a.       Usapkan cotton swab steril pada permukaan gigi, permukaan lidah yang sudah terkumpul dengan air liur.
b.      Sampel hasil swab disuspensikan ke dalam media BHI-broth, inkubasikan 18 jam.
  1. Lakukan plating sampel pada media BPA, MHA, dan MRSA.
  2. Inkubasikan petridih secara terbalik pada suhu 37°C selama 3-5 hari.
  3. Koloni yang tumbuh diamati dan dicatat.
  4. Pilih secara acak pada masing-masing petridish 2-3 koloni yang berbeda dan lakukan streak ulang pada media BHIA.
  5. Lakukan pengamatan terhadap morfologi koloni (warna, elevasi,permukaan, diameter, tepian) dan morfologi sel (bentuk sel dan sifat gram).
B.  Metodologi Pemeriksaan Sampel Sputum, dan Keputihan

Alat
·         Erlenmeyer
·         Ose
·         Bunsen
·         Laminair air flow
·         Petri
·         Perkamen
·         Kapas
·         Karet
·         Inkubator
Bahan
·         Media MHA
·         Media BPA
·         Air Pepton
·         Alkohol

·          
Ø  Metode
Sampel dahak dan keputihan dimasukan dalam Erlenmeyer berisi pepton 90 ml
¯
Ditutup dengan kapas dan perkamen
¯
Masing-masing sampel diinokulasikan pada 2 media MHA di dalam laminair air flow
¯
Diinkubasi pada suhu 37o C selama 24-48 jam
¯
Diidentifikasi jenis koloni berdasarkan warna
¯
Koloni dipindahkan ke media BPA dalam laminair air flow
¯
Diinkubasi pada suhu 37o C selama 24-48 jam
¯
Diidentifikasi jenis koloni berdasarkan warna


C. Metodologi Pemeriksaan Sampel Feses

Alat
·         Erlenmeyer
·         Ose
·         Bunsen
·         Laminair air flow
·         Petri
·         Perkamen
·         Kapas
·         Karet
·         Inkubator
Bahan
·         Air Pepton
·         Media BHI- A
·         Media CCA
·         Alkohol


Ø  Metode
Sampel Feses dimasukan dalam Erlenmeyer yang berisi 90 ml Pepton
¯
Sampel diinokulasikan pada 2  media CCA dalam Laminair Air Flow
¯
Diinkubasi pada suhu 37o C selama 24-48 jam
¯
Diidentifikasi jenis koloni berdasarkan warna
¯
Dihitung jumlah koloni
¯
Beberapa koloni dipilih dan diinokulasikan pada BHI-A
¯
Diinkubasi pada suhu 37o C selama 24-48 jam
¯
Diidentifikasi jenis koloni berdasarkan warna

D. Metodologi Pemeriksaan Sampel Urin

Alat
·         Botol Plastik Steril, gelas ukur
·        Bunsen
·        Petri Steril
·        Laminair Air Flow
·        Tabung Reaksi
·        Ose
·        Dry Glassky
·        Gelas Ukur
Bahan
·         Air Pepton
·         Media BPA
·         Media CCA
·         Alkohol

Ø  Metode

     1.            Pengambilan , Inokulasi Sampel dan Identifikasi Bakteri


Diambil sampel urine dalam botol plastik steril
¯
Sampel diencerkan dalam air pepton sebagai berikut
Sampel Urine A : 10-1  10-2 10-3 10-4 10-5 10-6 dan yang diinokulasikan ke CCA adalah 
10-4  10-5 10-6
Sampel Urine B : 10-1  10-2 10-3 10-4 10-5 dan yang diinokulasikan ke CCA adalah  10-3 
10-4 10-5
¯
CCA diinkubasi pada suhu 37o C selama 24-48 jam
¯
Diidentifikasi jenis koloni berdasarkan warna
¯
Dihitung jumlah koloni

     2.            Pemindahan Sampel pada BPA

Sampel pada Urine B dipindahkan pada Media BPA dalam Laminair Air Flow
¯
diinkubasi pada suhu 37o C selama 24-48 jam
¯
Diidentifikasi jenis koloni berdasarkan warna

Metode isolasi dan pemurnian DNA

Mengambil 1,5 ml -3 ml sampel
¯
Mensentrifiuse 6.500 rpm selama 3 menit
¯
Supernatan dibuang
¯
Ditambahkan 500µl lysis buffer
¯
Sentifuse 6.500 rpm selama 1 menit
¯
Supernatan dibuang dan endapan ditambahkan 500µl rinse buffer
¯
Ditambahkan digestion buffer 500µl
¯
Diinkubasi dalam waterbath 55ºC selama 60 menit
¯
Divorex setiap 5 menit sekali
¯
Ditambahkan 500µl fenol
¯
Menggoyang dengan tangan selama 20 menit
¯
Disentifuge 13000 rpm selama 3 menit
¯
Fase bagian atas yang mengandung DNA dipindahkan ke tabung baru
¯
Ditambahkan 500µl CIAA
¯
Menggojog dengan tangan selama 20 menit
¯
Disentrifiuse 13.000 rpm selama 3 menit
¯
Cairan bagian atas dipindahkan ke tabung baru
¯
Ditambahkan etanol absolut 2 kali (300-600µl)
¯
Diendapkan gumpalan DNA dengan sentrifuse 13000 rpm selama 5 menit
¯
Dituang etanol absolut pelan-pelan
¯
Dicuci endapan dengan alkohol 70%
¯
Disentrifuse 13000 rpm selama 3 menit
¯
DNA yang diperoleh dikeringkan
¯
DNA dilarutkan dalam DNAse RNAse free distilled water
¯
Disimpan pada suhu -20ºC
¯
DNA dilihat kualitasnya dengan dimigrasikan pada gel agarose 0,8% dengan menggunakan buffer TBE 1x dengan pewarnaan Sybr Safe DNA gel stain.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL DATA PRAKTIKUM FLORA NORMAL
Tabel.1 : hasil flora normal pada Tangan
Sumber Sampel
Pengenceran
Jumlah Koloni Pada Media
Keterangan
MHA
BPA
MRSA
Tangan 1 (sebelum)
10-4
400 kuning
180 putih
 spreader

-

MHA
è Koloni putih
è Koloni Kuning
BPA
à koloni berwarna Hitam sekelilingnya berwarna kuning (Staphylococcus.sp)

MRSA
à Berwarna putih
10-5
98 kuning, 20 putih
180 + spreader

20

10-6
- kuning, + 2 putih
90
20

Tangan 2
(sesudah)
10-4
380 kuning 100 putih
Spreander
58 + Spreander

5

10-5
280 kuning
20 putih
30 + Spreander

10
10-6
3 putih
6 kuning Spreander
20 + Spreander
18

Gambar penampakan dalam medium CCA






B. HASIL DATA PRAKTIKUM DAHAK DAN KEPUTIHAN

Tabel.2 : hasil keputihan
No. Sampel
Spesimen
Kelompok
Pada MHA
Pada BPA
Hasil Identifikasi
1
Keputihan
1
Koloni Coklat
Koloni hjau

2
Keputihan
1
Koloni Putih
Koloni hitam
Staphylococcous
3
Keputihan
2



4
Keputihan
2



5
Keputihan
3
-
-
-
6
Keputihan
3
-
-
-
7
Keputihan
4
Koloni Putih
-
-
8
Keputihan
4
Koloni Putih
-
-








Tabel.3 Hasil sputum
Sumber Sampel
Pengenceran
Media Yang Koloninya Dipindah
Warna Koloni
Sputum (dahak) 1.1
10-4
BPA


Kuning dan putih
10-5
-
10-6
MRSA dan MHA
Sputum (dahak)
1.2
10-4
BPA dan MRSA
10-5
-
10-6
MHA



C. HASIL DATA PRAKTIKUM FESES
Tabel.5 : tabel hasil pengamatan feses
No. Sampel
Spesimen
Kelompok
Pada CCA
Pada BHI
Hasil Identifikasi
1
Feses
1
Biru gelap & merah
Koloni Putih

*Merah : kelompok Enterobacter
*Biru Gelap :
Kelompok 
Bakteri E.
coli
2
Feses
1
Biru gelap & merah
Koloni Putih
3
Feses
2
Biru gelap & merah
Koloni Putih
4
Feses
2
Biru gelap & merah
Koloni Putih
5
Feses
3
Biru gelap & merah
Koloni Putih
6
Feses
3
Biru gelap & merah
Koloni Putih
7
Feses
4
Biru gelap & merah
Koloni Putih
8
Feses
4
Biru gelap & merah
Koloni Putih



























D. HASIL DATA PRAKTIKUM URIN
Tabel.6 : Hasil pengamatan Urine
Sampel Urine
Pengenceran
Jumlah koloni pada CCA
Keterangan
Sampel yang dipindah
A
10-4
3
Dark Blue
-
10-5
21
Kuning
-
10-6
3

-
B
10-3
1
Dark Blue
-
10-4
1
Merah
-
10-5
196
Dark Blue
8
Red
32
Light Blue
165
Kuning


Tabel 7. Hasil Uji MRVP
 Keterangan Sampel
Kode sample
Uji dengan Methyl Red
Urine 1B 10-3 CCA Biru Gelap
2
(-)
Urine 1B 10-3 CCA Biru Gelap
2
(-)
Urine 1B 10-2 CCA Biru Gelap
5
(+)
Urine 1B 10-2 CCA Biru Gelap
5
(-)


Uji Dengan Reagen BARRIT
Urine 3.Merah 10-3
1
(-)
Urine 3.Merah 10-3
1
(-)
Urine B Merah  10-2
2
(-)
Urine B Merah  10-2
2
(-)



Tabel 8. Hasil Uji SIM
Sample
Kode sample
Keterangan Sample
(Ditetesi dengan 3-4 tetes Reagen Kovac)
Urine 1 10-2 CCA Merah
1
(+)  ada cincin warna merah.
 Uji indol (-)
Urine 2 10-3 CCA Merah
2
(+)  ada cincin warna merah.
 Uji indol (-)
Urine 1. Biru gelap  10-3
2
(+)  ada cincin warna merah.
 Uji indol (-)
Urine 2. Biru gelap 10-3
5
Rusak


Tabel 9. Menentukan Jenis Bakteri/Mikrobia
Keterangan Sample
Uji Mikrobia
Jenis
Indol
MR
VP
Citrat

Urine 1. 10-2 CCA Biru Gelap
-
-
+
+
E.coli
Urine 2. 10-2 CCA Biru Gelap
-
-
+
+

Urine 1. Merah 10-2
-
-
-
-

Urine 2. Merah 10-3
-
-
-
+


Tabel 10. Hasil Uji TSIA
Sample
Kode Sample
Keterangan
Kel 4. 10-2 Putih
1
Perubahan warna menjadi Orange/merah muda.Menandakan adanya produksi alkali/glukosa. (Basa)
Urine 1B 10-2 Biru Terang
1
Perubahan warna menjadi Orange/merah muda.Menandakan adanya produksi alkali/glukosa. (Basa)
Urine 1B 10-2 Biru Terang
2
Perubahan warna menjadi Orange/merah muda.Menandakan adanya produksi alkali/glukosa. (Basa)
Urine CCA 10-2Putih
5
Perubahan warna menjadi Orange/merah muda.Menandakan adanya produksi alkali/glukosa. (Basa)
Kel 4. Urine CCA 10-2Putih
5
Perubahan warna menjadi Orange/merah muda.Menandakan adanya produksi alkali/glukosa. (Basa)

Tabel 11. Hasil Uji UREA
Sample
Kode Sample
Keterangan
Kelompok 3&4 10-2 Putih
1
-
Urine 1 10-2 Biru Terang
1
Perubahan warna menjadi violet (+)
Urine 2 10-2 Biru Terang
2
Perubahan warna menjadi violet(+)
Urine CCA 10-2 Putih
5
-
Kel 3&4. Urine CCA 10-2Putih
5
-

Tabel.12 Hasil uji antibiotik
Kode isolasi
Diameter
Amphicilin
chloramphenicol
Erytromcin
gentamycin
Nalidsix  acid
tetracykline
Biru gelap 2

20

25

8

20

14

30
Biru Gelap
5


40

18

12

25

12

28




PEMBAHASAN
A. FLORA NORMAL
v  Tangan
Berdasarkan tabel hasil pengamatan flora normal pada epidermis kulit di atas dapat kita ketahui bahwa pada tubuh manusia banyak terdapat mikroorganisme. Pada epidermis kulit sebagaimana dalam tabel diatas, terdapat bakteri yang membentuk koloni, tapi ada juga kumpulan dari banyak koloni bakteri yang tidak dapat diamati lagi koloninya atau disebut juga blooming. Dikatakan blooming karena populasi mikrobanya sudah terlalu banyak. Hal ini mungkin disebabkan kulit secara konstan berhubungan dengan bakteri dari udara atau dari benda-benda. Sehingga mudah sekali untuk ditempeli oleh bakteri. Selain itu pula sebagaimana kita ketahui bersama kalau kulit memiliki pH yang sedikit asam. Namun umumnya bakteri di kulit akan cepat terbuang dan berganti seiring dengan matinya lapisan kulit.
Dari hasil penelitian diatas, jumlah bakteri pada tangan masih tergolong normal. Banyaknya jumlah bakteri pada tangan tergantung oleh beberapa faktor yaitu, waktu sejak terakhir cuci tangan yang mempengaruhi komunitas bakteri di tangan. Faktor yang kedua adalah derajat kontaminasi sesuai dengan kontak. Apabila semakin banyak melakukan kontak dengan benda-benda disekitar kita berarti derajat kontaminasinya semakin tinggi dan jumlah mikroorganisme juga semakin banyak. Faktor yang ketiga adalah derajat kerentanan seseorang terhadap mikroorganisme. Semakin tinggi derajat kerentanan seseorang terhadap mikroorganisme maka akan semakin banyak jumlah mikroorganisme yang singgah (Fierer, 2008).
Pada penelitian kali ini kami menggunakan medium MHA yang kemudian dipindahkan ke dalam medium BHI dan selanjutnya ke dalam MRSA dan BPA. Pada tiap perlakuan penanaman dalam medium yang berbeda diketahui bahwa adanya perbedaan perumbuhan koloni. Pada medium MHA terlihat warna putih kekuningan dan kemudian setelah dipindahkan kedalam BHI terlihat perbedaan warna awal dan menunjukan perbedaan yang signifikan antara perlakuan sebelum dan sesudah mencuci tangan. Sebelum mencuci tangan terlihat warna medium yang sangat keruh sedangkan perlakuan setelah mencuci tangan terlihat kuning namun sedikit keruh juga. Hal ini bukan berarti menunjukan bahwa perlakuan setelah mencuci tangan bebas dari mikroorganisme namun dengan adanya perubahan warna medium berarti telah (+) terdapat miroorganisme flora normal pada tangan kita. Setelah melakukan uji ini kemudian kita ingn mengetahui jenis bakteri flora normal yang berhasil kita kulturkan. Berdasarkan data dan sifatnya dikeahui bahwa bakteri ini merupakan jenis Staphylococcus.sp karena ketika dikulturkan ke dalam medium BPA koloni terlihat berwarna hitam disertai lingkaran kuning yang tidak begitu terang. Hal ini benar menunjukan bahwa pada kulit kia memang benar terdapat aktvitas mikrobia pada umumnya yang disebut dengan flora normal.
v  Air liur/Saliva
Saliva adalah cairan kental yang diproduksi oleh kelenjar ludah. Pada rongga mulut akan terdapat flora normal seperti: Streptococcus viridians (pada mukosa mulut dan faring), Streptococcus non hemoliticus, Alfa hemoliticus, Neisseria (faring dan trakhea), Veillonella, Actinomyces, dan Lactobacillus. Satu-satunya spesies yang selalu diperoleh dari rongga mulut, ialah Streptococcus salivarius. Bakteri ini mempunyai afinitas terhadap jaringan epithel dan karena itu terdapat dalam jumlah besar pada permukaan lidah. Orofaring (bagian belakang mulut) juga dihuni sejumlah besar bakteri Staphylococcus aureus dan S. epidermidis dan juga difteroid. Tetapi kelompok bakteri terpenting yang merupakan penghuni asli orofaring ialah Streptokokus α-hemolitik, yang juga dinamakan Streptokokus viridans. Biakan yang ditumbuhkan dari orofaring juga akan memperlihatkan adanya Branchamella catarrhalis, spesies Haemophilus, serta gular-galur pneumokokus avirulen (Streptococcus pneumonia).
Kelembapan yang paling tinggi, adanya makanan terlarut secara konstan dan juga partikel-partikel kecil makanan membuat mulut merupakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri. Mikrobiota mulut atau rongga mulut sangat beragam, jumlah banyaknya bergantung pada kesehatan pribadi masing-masing individu. Dengan adanya flora yang menetap diselaput lendir (mukosa) dan kulit, dapat mencegah kolonialisasi oleh bakteri patogen dan mencegah penyakit akibat gangguan bakteri. Di dalam mulut terdapat air liur yang kaya akan nutrisi. Air liur terdiri dari air, asam amino, protein, lipid, karbohidrat, dan senyawa-senyawa anorganik. Jadi, air liur merupakan medium yang kaya serta kompleks yang dapat dipergunakan sebagai sumber nutrien bagi mikrobia di dalam mulut. Kadar bakteri pada saliva adalah sekitar 108/ml, dan kurang lebih setengah dari jumlah itu berupa bakteri anaerob, dengan Veillonella sebagai bentuk yang dominan.
Bakteri ini bukan lah merupakan bakteri flora normal yang dapat ditemukan pada tubuh manusia, karena bakteri Haemophilus influenzae merupakan gram negatif yang dapat mengakibatkan penyakit bronkitis dan pneumoniae.
Pada praktikum ini digunakan BPA karena bisphenol A (BPA) adalah bahan kimia yang diproduksi dalam jumlah besar yang digunakan dalam produksi plastik polikarbonat dan resin epoxy. BPA sendiri adalah bahan kimia yang telah lebih dari 40 tahun digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat (PC), turunan BPA digunakan sebagai bahan tambahan dalam plastik PVC (polivinil klorida) dan resin epoksi, yang digunakan sebagai bahan kemasan pangan, botol air minum, botol bayi dan tableware. Resin epoksi sendiri digunakan sebagai pelapis atau pelindung bagian dalam kaleng makanan dan minuman, termasuk makanan formula bayi kalengan berbentuk cair. Tidak hanya pada kemasan pangan, PVC dan resin epoksi juga digunakan pada peralatan elektronik seperti komputer, ponsel, peralatan medis, dll. (Sumber: Dwi Retno Widiastuti, ST, 2011, volume 19, tahun X, Majalah Keamanan Pangan, BPOM RI).
Bagaimana BPA masuk ke dalam tubuh? Sumber utama dari paparan BPA bagi kebanyakan orang adalah melalui diet. Sementara udara, debu, dan air merupakan sumber lain yang mungkin dari paparan, BPA dalam makanan dan minuman menyumbang sebagian besar eksposur manusia sehari-hari.  Bisphenol A ini dapat larut ke dalam makanan dari lapisan resin epoksi internal yang protektif terhadap makanan kaleng dan dari produk konsumen seperti polikarbonat pecah, wadah penyimpanan makanan, botol air, dan botol bayi. Sejauh mana larut BPA dari botol polikarbonat ke dalam cairan lebih banyak tergantung pada suhu cairan atau botol, dari umur wadah. BPA juga dapat ditemukan dalam Air Susu Ibu.
Pertanyaan yang sering muncul adalah Mengapa orang prihatin tentang BPA? Salah satu alasan orang mungkin khawatir tentang BPA adalah karena paparan BPA tersebar luas. The 2003-2004 Survei Kesehatan Nasional dan Gizi (NHANES III) yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan (CDC) Penyakit menemukan bahwa tingkat terdeteksi BPA di 93% dari 2.517 sampel urin dari orang-orang enam tahun dan lebih tua. Data CDC NHANES dianggap mewakili eksposur di Amerika Serikat. Alasan lain untuk perhatian, terutama bagi orang tua, mungkin karena beberapa studi hewan melaporkan efek pada janin dan bayi baru lahir terpapar BPA. Namun di sisi lain, seperti anggur khususnya yang difermentasikan dalam tong dengan lapisan plastik tertentu bisa terkontaminasi BPA yang ironisnya justru memicu kanker. Dampak yang ditimbulkan BPA terhadap kesehatan yakni, penyakit jantung, diabetes dan kelainan hati pada orang dewasa serta otak, masalah pembangunan hormon pada janin dan anak-anak muda. Pada jalur oral (mulut dan saluran pencernaan), pemanasan botol, kondisi makanan yang panas dalam botol, atau keberadaan makanan/minuman asam, serta pencucian yang berulang pada botol polikarbonate dapat meningkatkan lepasnya monomer BPA dari botol. Oleh karena hasil yang didapat adalah koloni berwarna Hitam (tersangka Staphylococcus). Efek lain dari BPA adalah cara penyimpanan sikat gigi juga sangat berpengaruh terhadap kebersihan sikat gigi kita dan bagaimana mikroba berkembang di dalamnya. Dengan menyimpan sikat gigi kita dalam wadah plastik akan sangat berbahaya. Tetapi menyimpan sikat gigi dengan meletakkannya di gelas dan membiarkannya terbuka juga bukan metode penyimpanan yang baik. Simpanlah sikat gigi Anda didalam wadah yang terbuat dari kain. Kain ini akan menyerap sisa air liur yang tertinggal di sikat gigi juga menyerap kelembaban sikat gigi. Dengan cara ini kami telah mencegah timbulnya bakteri baru di sikat gigi. Mensterilkan sikat gigi di microwave. Ada beberapa orang yang menaruh sikat giginya di mocrowave dengan tujuan untuk mensterilkan. Tetapi kebanyakan sikat gigi terbuat dari plastik, silikon, nilon, dan microwave akan menghancurkannya. Dengan memanaskan sikat gigi dalam microwave akan menyebabkan pelepasan bisphenol-A (BPA) yang ada pada plastik sikat gigi. BPA ini sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan infertilitas dan berbagai jenis kanker.
Selain BPA juga ada semacam media yang digunakan untuk menguji tingkat pengaruh pada saliva dan rongga mulut. MRSA merupakan media yang diperkenalkan oleh De Mann, Rogosa, dan Shape (1960) untuk memperkaya, menumbuhkan, dan mengisolasi jenis Lactobacillus dari seluruh jenis bahan. MRS agar mengandung polysorbat, asetat, magnesium, dan mangan yang diketahui untuk beraksi/bertindak sebagai faktor pertumbuhan bagi Lactobacillus, sebaik nutrien diperkaya MRS agar tidak sangat selektif, sehingga ada kemungkinan Pediococcus dan jenis Leuconostoc serta jenis bakteri lain dapat tumbuh. MRS agar mengandung: Protein dari kasein, glukosa, magnesium sulfat, agar-agar, dipotassium hidrogen phosphate, Tween, diamonium hidrogen sitrat, natrium asetat dan mangan sulfat 0,04 g/L. Oleh karena itu media ini menghasilkan cairan warna putih pada air liur karena mengandung asam asetat.
Media yang digunakan lagi dalam praktikum ini adalah MHA atau Mueller-Hinton agar berisi peptone, dan pati dan digunakan terutama untuk uji kerentanan antibiotik. Komposis media ini adalah agar-agar, akuades, serta amilum. Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik. Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu mikroba. Contohnya adalah Koser’s Citrate medium, yang digunakan untuk menguji kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon. Karena semua pertumbuhan tergantung pada reaksi kimiawi dan karena laju reaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh suhu,maka pola pertumbuhan bakteri dapat sangat dipengaruhi oleh suhu. Suhu juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme. Meskipun mikroba aerob memerlukan oksigen dalam pertumbuhannya, tetapi sebagian besar enzim mengalami kerusakan jika kontak dengan oksigen. Oleh karena itu mikroba melakukan detoksifikasi oksigen.

v  Cairan Secret Vagina
Flora normal di dalam vagina membantu menjaga keasaman pH vagina, pada keadaan yang optimal. pH vagina seharusnya antara 3,5-5,5, namun flora normal ini bisa terganggu misalnya karena pemakaian antiseptik untuk daerah vagina bagian dalam. Ketidakseimbangan yang terjadi pada daerah vagina bisa mengakibatkan tumbuhnya jamur dan kuman-kuman yang lain. Padahal flora normal dibutuhkan untuk menekan tumbuhan yang lain agar tidak tumbuh subur. Jika keasaman dalam vagina berubah maka kuman-kuman lain dengan mudah akan tumbuh sehingga akibatnya bisa terjadi infeksi yang akhirnya menyebabkan keputihan, yang berbau, gatal, dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Pada praktikum ini keputihan yang telah di sweep menggunakan kapas steril kita masukkan kedalam air pepton 1% ini dikarenakan air pepton tidak akan membuat bakteri semakin berkembang biak dan bakteri juga tidak akan mati. Selanjutnya bakteri akan dipindahkan kedalam medium MHA( Muller Hinton Agar ) dimana medium ini untuk tes antibakteri terutama bakteri aerob dan facultative anaerobic bacteria. Media agar ini mengandung sulfonamida, trimethoprim, dan inhibitor tetrasiklin yang rendah serta memberikan pertumbuhan pathogen yang memuaskan (Acumedia, 2004).
BPA( Baird Parker Agar) digunakan sebagai medium selektif dalam pengujian mikrobiologi bakteri Staphylococcus Aureus. Dalam medium ini terkandung lithium klorida dan tellurit untuk menumbuhkan mikroba-mikroba yang ada dalam sample juga mengandung piruvat dan glisin yang berfungsi untuk mendukung pertumbuhan  bakteri Staphylococcus.  
Pada praktikum ini kita hanya melakukan uji pendahuluan untuk melihat bakteri apa aja yang terdapat pada keputihan dan didapatkan bakteri staphylococcus.  Dimana pada kondisi ini bakteri yang secara normal ada pada vagina mengalami peningkatan jumlah/perkembang biakan yang melebihi normal. Hal ini juga dikenal sebagai vagina colonized, dalam keadaan normal terdapat banyak spesies bakteri yang menghuni vagina. Yang paling umum jenis bakteri ini adalah dari genus Lactobacillus. Genera bakteri lain yang ditemukan dalam vagina adalah Staphylococcus, Streptococcus, Proteus, Corynebacterium, dan beberapa orang lainnya. Ketika bakteri penyebab penyakit meningkat jumlahnya, mereka menyebabkan manifestasi ketidaknyamanan, nyeri dan tidak nyaman lain.
Flora normal di dalam vagina membantu menjaga keasaman pH vagina, pada keadaan yang optimal. pH vagina seharusnya antara 3,5-5,5, namun flora normal ini bisa terganggu misalnya karena pemakaian antiseptik untuk daerah vagina bagian dalam. Ketidakseimbangan yang terjadi pada daerah vagina bisa mengakibatkan tumbuhnya jamur dan kuman-kuman yang lain. Padahal flora normal dibutuhkan untuk menekan tumbuhan yang lain agar tidak tumbuh subur. Jika keasaman dalam vagina berubah maka kuman-kuman lain dengan mudah akan tumbuh sehingga akibatnya bisa terjadi infeksi yang akhirnya menyebabkan keputihan, yang berbau, gatal, dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Pada praktikum ini keputihan yang telah di sweep menggunakan kapas steril kita masukkan kedalam air pepton 1% ini dikarenakan air pepton tidak akan membuat bakteri semakin berkembang biak dan bakteri juga tidak akan mati. Selanjutnya bakteri akan dipindahkan kedalam medium MHA( Muller Hinton Agar ) dimana medium ini untuk tes antibakteri terutama bakteri aerob dan facultative anaerobic bacteria. Media agar ini mengandung sulfonamida, trimethoprim, dan inhibitor tetrasiklin yang rendah serta memberikan pertumbuhan pathogen yang memuaskan (Acumedia, 2004).
BPA( Baird Parker Agar) digunakan sebagai medium selektif dalam pengujian mikrobiologi bakteri Staphylococcus Aureus. Dalam medium ini terkandung lithium klorida dan tellurit untuk menumbuhkan mikroba-mikroba yang ada dalam sample juga mengandung piruvat dan glisin yang berfungsi untuk mendukung pertumbuhan  bakteri Staphylococcus.  
Pada praktikum ini kita hanya melakukan uji pendahuluan untuk melihat bakteri apa aja yang terdapat pada keputihan dan didapatkan bakteri staphylococcus.  Dimana pada kondisi ini bakteri yang secara normal ada pada vagina mengalami peningkatan jumlah/perkembang biakan yang melebihi normal. Hal ini juga dikenal sebagai vagina colonized, dalam keadaan normal terdapat banyak spesies bakteri yang menghuni vagina. Yang paling umum jenis bakteri ini adalah dari genus Lactobacillus. Genera bakteri lain yang ditemukan dalam vagina adalah Staphylococcus, Streptococcus, Proteus, Corynebacterium, dan beberapa orang lainnya. Ketika bakteri penyebab penyakit meningkat jumlahnya, mereka menyebabkan manifestasi ketidaknyamanan, nyeri dan tidak nyaman lain.
v  Feses
Feses adalah kotoran yang dibuang oleh manusia rhasil dari sisa pencernaan manusia. Feses biasanya mengandung bakteri-bakteri yang terdapat pada tubuh manusia terkhusus dibagian perut maupun usus manusia. Tinja sering digunakan untuk mengetahui berbagai penyakit yang dialami manusia, disebabkan bakteri yang ada di dalam tubuh dikeluarkan melalui feses.
Pada praktikum saat ini feses diambil dari pasien yang mengalami sakit diare yang tidak berhenti selama 2 minggu dan mengalapi penyakit kista. Feses yang diambil dimasukkan ke dalam air pepton untuk menjaga mikrobia yang ada di dalam feses tetap dalam keadaan baik untuk dilakukan identifikasi.
Proses identifikasi dilakukan dengan cara menanam atau spread koloni mikrobia yang ada pada feses pada medium CCA. Medium CCA (Chromocul Koliform Agar ) adalah media yang sangat selektif, dan kebanyakan dari bekteri yang tumbuh adalah  bakteri bentuk gram positif . CCA (Chromocul Coliform Agar )  sendiri mengadung TergitolR7 ,dimana komponen tersebut merupakan faktor penghambat pertumbuhan bacteri selain e,coli , coliform. Karaktersik pertumbuhan  dari bakteri coliform pada  Chromocul coliform agar  adalah berwarna merah solmon , sedangkan e colli berwarna biru gelap ke violet .
Dari hasil yang di dapat ditemukan bakteri yang terlihat di dalam media hanya pada salah satu sudut, jumlah koloni yang ditemukan 35 koloni. Warna yang muncul pada medium berwarna merah dan biru tua, sehingga dapat diidentifikasi bahwa feses yang di gunakan mengandung bakteri coliform dan e colli, walaupun tidak banyak koloni yang ada. Pendeteksian bakteri e colli digunakan dikarenakan bakteri tersebut flora normal di dalam usus manusia hanya beberapa strain tertentu yang dapat menyebabkan penyakit diare yang dialami oleh manusia.
Setelah dilakukan identiikasi kemudian 2 koloni dipindahkan ke dalam BHI agar. BHI merupakan media penyubur yang berguna untuk pertumbuhan berbagai macam bakteri. Bahan utama  dari BHI agar terdiri dari beberapa jaringan hewan ditambah pepton, buffer posfat, dan sedikit dekstrosa. Penambahan karbohidrat memungkinkan bakteri dapat menggunakan langsung sebagai sumber energi.
v  Urine
          Pada praktikum kali ini hasil urine yang berhasil di isolasi adalah berasal dari kelompok 1 yang di duga mengalami infeksi pada saluran kencing. Hal ini di tandakan dengan adanya warna koloni yang beragam pada medium CCA yaitu berwarna biru terang, merah, kekuningan, dan biru gelap. Setelah mendapatkan warna koloni yang diduga sebagai target utama dalam penyebab infeksi dari saluran kemih responden maka selanjutnya identifikasi menggunakan medium identifikasi selanjutnya yaitu UREA,, SIMON CITRAT, TSIA, SIM, MRVP, dan kemudian selanjutnya adalah uji IMVIC.
Uji Urea menggunakan urea broth dan dibiakan bakterinya dan diinokulasikan serta diinkubasi selama 24-48 jam, pada praktikum pengujian pada medium urea terlihat sampel dengan kode isolasi 2 ; putih ;10-3 berubah menjadi warna ungu . Berdasarkan hal tersebut maka terbukti bahwa 1 sampel dari kelompok 3 dan 4 pada Uji urea positif karena bewarna merah keunguan setelah terjadinya inkubasi. Hal itu akan menunjukkan bahwa bakteri mampu menggunakan urea dan akan mengubah pH menjadi basa.Uji urea digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya glukosa dalam urine. Uji positif urine jika adanya perubahan warna menjadi merah/violet. Hal itu menunjukkan adanya glukosa. Uji urine menggunakan reaksi reduksi dengan menggunakan benedict, fehling. Jenis tersebut digunakan untuk memeriksa semi-kuantitatif.
Pada uji simmon kode isolasi 1 dan 2 koloni merah terlihat perubahan medium menjadi biru (+) sedangkan dua sampelnya dengan kode isolasi 2&5 terbukti (-) karena tidak mengalami perubahan warna. Uji Sitrat yang dilakukan untuk mendeteksi kemampuan organisme menggunakan sitrat sebagai sumber karbon. Media yang digunakan juga mengandung garam amonium inorganik sebagai sumber nitrogen. Penggunaan sitrat ini dibantu oleh enzim Citritase/ permease yang akan mengubah sitrat menjadi oxaloasetat dan asetat, oleh sebab itu Koloni merah dengan kode isolasi 1&2 terbukti mampu menggunakan sitrat daam medium sebagai sumber karbonnya.
Pada identifikasi bakteria yang juga menggunakan medium TSIA (Triple Sugar Iron Agar). TSIA terdiri dari tiga komponen gula,  ketiga komponen gula ini akan digunakan untuk menentukan  kemampuan mikrobia untuk menggunakan beberapa atau semua komponen gula. Pada TSIA juga terdapat komponen besi yang akan bereaksi dengan hidrogen sulfida (H2S), gas yang diproduksi oleh mikrobia. Ketika mikrobia memproduksi H2S, lapisan yang terbentuk akan berubah semua atau sebagian menjadi gelap.
Tiga komponen gula yang terdapat dalam TSIA adalah glukosa, sukrosa, dan laktosa. Jika ketiga komponen gula digunakan dalam metabolisme mikrobia, mikrobia akan mengakumulasi produk samping berupa asam. Pada medium yang berwarna merah pada awalnya berubah menjadi kuning mengindikasi adanya produksi asam.
Pada hasil kelompok 4 pada medium yang awalnya berwarna merah berubah menjadi magenta atau pink menunjukkan adanya aktifitas mikrobia di dalamnya. Mikrobia hanya menggunakan glukosa pada metabolismenya, glukosa yang tersapat pada TSIA terbatas, sehingga langsung terkuras dengan cepat. Namun mikrobia masih memerlukan nutrisi tapi tidak dapat menggunakan produk gula yang lain. Warna pink yang dihasilkan berasal dari komponen basa. Bakteria hanya menggunakan glukosa tapi tidak dapat menggunakan laktosa dan sukrosa.
Kemudian selanjutnya masing-masing kelompok menguji pada medium SIM yang kemudian selanjutnya akan dilihat tererbentuknya indole yang terdeteksi saat media ditetesi dengan reagen Kovac setelah ditumbuhkan dalam medium SIM. Reagen Kovac mengandung para-dimethyl aminobenzaldehyde, isoamyl alcohol  dan con. Indole tersebut akan bereaksi dengan aldehid pada reagenKovac dan memberikan warna merah. Adanya lapisan alkohol akan menghasilkan cincin warna merah pada bagian permukaan media. Apabila dihasilkan H2S maka bagian dasar media akan berwarna hitam namun hal tersebut tidak terjadi pada medium simon setiap kelompok, hal ini menunjukan hasil (-) karena tidak terbentuknya warna merah. Sedangkan untuk uji motilitasnya pada medium SIM (+) menyebar/ bakteri ini memiliki sifat motilitas.
Kemudian selanjutnya berdasarkan dari data yang di dapat untuk uji MRVP terlihat bahwa ada uji MR yang menggunakan reagen methyl red, terlihat hanya ada kode isolat urin 1B 10-2 CCA Biru Gelap saja yang menunjukkan hasil ositif dan da isolat yang lain yaitu Urine 1B 10-3 CCA Biru Gelap, Urine 3.Merah 10-3, dan Urine B Merah  10-2 menunjukkan hasil negatif. Data tersebut menunjukkan bahwa isolat yang menghasil kan data positif dapat mengahasilkan asam campuran (metilen glikon) dari proses fermentasi glukosa yang terkandung dalam medium MR-VP. Terbentuknya asam campuran pada media akan menurunkan pH sampai 5,0 atau kurang, oleh karena itu bila indikator metil ditambahkan pada biakan tersebut dengan pH serendah itu maka indikator tersebut menjadi merah. (Anonim2, 2008) Sedangkan pada uji VP menunjukkan bahwa hasil yang didapat negatif untuk semua isolat yang di teliti. Hal tersebut menandakan bahwa isolat yang dimiliki pada hasil akhir fermentasi bukan asetil metil karbinol (asetolin) sehingga tidak terbentuk warna merah(Anonim2, 2008).
Selanjutnya hasil dan pembahasan daari PCR dan uji latex adalah dimana dilihat pada uji latex yang kita lakukan hanya isolat 1 pada kolam ke-6 yang mengalami koagulasi dan ini menunjukkan isolat 12 positif , Hasil uji positif ini meneguhkan  bahwa isolat yang diuji 100% merupakan  isolat  E.coli  O157. Identifikasi ini  mengacu pada prosedur pabrik (Oxoid), yang menyatakan bahwa uji  lateks  E.  coliO157 merupakan uji yang sangat akurat dengan tingkat sensitivitas 100% sertatingkat spesifisitas 99% (Anonim, 1998). Dari uji ini kita dapat melanjutkan kepada uji PCR yang dimana pada praktikum ini kita menggunakan isolat 1, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 kondisi PCR yang digunakan heat lid 110.0C dengan  Siklus PCR yang diawali oleh denaturasi pada suhu 94°C  selama 1 menit yang berfungsi untuk mengubah DNA untai ganda menjadi untai tunggal. Selanjutnya adalah tahap annealing (penempelan) yaitu pengikatan primer pada DNA untai tunggal yang dilakukan pada suhu 64°C selama 30 menit. Akhir dari proses amplifikasi ini adalah polimerisasi (pemanjangan rantai) pada suhu 72°C selama 1 menit.
            Uji PCR ini menggunakan primer gyrB (UP1S dan UP2Sr) ini merupakan primer universal untuk amplifikasi , dengan 1205bp  penambahan DreamTaq Green PCR Master Mix , kemudian dilanjutkan dengan penambahan dH2O sebagai pelarut dan didapatkan hasil  isolat 1,4 dan 10. Pada isolat lain tidak terdeteksi hal ini bisa disebabkan oleh kesalahan pada proses isolasi DNA.
Komponen-komponen yang dibutuhkan dalam PCR antara lain template DNA, primer, buffer, MgCl2, Taq polymerase, ddNTPs, ddH2O. Templat DNA merupakan supernatan hasil lisis sel yang berisi DNA yang ingin diamplifikasi. Primer disusun dari sintesis oligonukleotida sepanjang 15-32 bp dan mampu mengenali urutan yang akan diamplifikasi. Standar sepasang primer untuk amplifikasi mempunyai kisaran pasangan basa sekitar 20 basa panjangnya pada tiap primernya. Kandungan basa guanin dan sitosin berada diantara 45-60%.

UJI COBA HASIL IDENTIFIKASI PADA FESES
MENGGUNAKAN PRIMER gyrB UNTUK DETEKSI Salmonella Sp. & E.Coli


BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan 
Ø  Banyak bakteri yang dijumpai pada tubuh manusia yang biasa disebut sebagai bakteri Flora normal. Streptococcus viridans, S. faecalis, Pityrosporum ovale dan Candida albicans merupakan bakteri yang sering dijumpai pada manusia namun pada praktikum kali ini bakteri yang dijumpai pada permukaan gigi dan tangan diduga adalah jenis streptococcus sp dan Staphylococcus sp.
Ø  Medium agar bisa digunakan untuk menumbuhkan bakteri atau mikroba. Selain itu bisa digunakan juga untuk menghitung jumlah atau massa mikroba.
Ø  pengujian sampel urin yang terinfeksi sejauh beberapa penelitian menunjukan adanya kelompok bakteri E.coli namun pada pengujian latex tidak menunjukan aglutinasi pada koloni sampel isolasi yang terduga hal ini berarti menunjukan koloni terduga bukan dari kelompok E.coli.



DAFTAR PUSTAKA

v  Anonim2. 2008. Laporan Koasistensi Mikrobiologi http://hafizluengdaneun.multiply.com/journal/item/1/Laporan
Koasistensi_Mikrobiologi
v  Manuaba, dkk. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, EGC, Jakarta
v  http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/20/jhptump-ump-gdl-windyaguss-975-2-babii.pdf , Diakses 27 Mei 2014
v